Minggu, 8 November 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Pakar Ingatkan Teknologi Modifikasi Cuaca Tak Sentuh Akar Persoalan Bencana

Kamis, 5 Februari 2026
A A
Teknologi modifikasi cuaca untuk mengurangi polusi udara. Foto Dok. BRIN.

Teknologi modifikasi cuaca untuk mengurangi polusi udara. Foto Dok. BRIN.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Meningkatnya bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah Indonesia mendorong pemanfaatan modifikasi cuaca sebagai solusi. Modifikasi cuaca kerap dipersepsikan sebagai jalan pintas untuk menekan dampak banjir, longsor, dan cuaca ekstrem.

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan menyatakan modifikasi cuaca memang dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk meminimalisasi dampak bencana hidrometeorologi. Namun hanya bersifat jangka pendek dan tidak menyentuh akar persoalan.

“Modifikasi cuaca itu penting sebagai salah satu usaha mitigasi, tetapi harus digarisbawahi ini bukan solusi permanen. Tidak menyelesaikan penyebab utama bencana hidrometeorologi,” tegas Sonni.

Efektivitas modifikasi cuaca sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Teknik ini baru bisa dilakukan apabila tersedia awan dengan karakteristik tertentu.

Baca juga: Baleg Tunda Harmonisasi RUU Pengelolaan Perubahan Iklim

Ia mencontohkan, saat kondisi cuaca yang banyak awan, modifikasi dilakukan dengan cara menggabungkan awan-awan yang berdekatan sehingga proses presipitasi atau hujan dapat dipercepat.

“Kalau kondisi atmosfernya tidak mendukung, modifikasi cuaca otomatis menjadi tidak efektif. Jadi tidak bisa dipaksakan,” jelas dia.

Sekalipun kondisi cuaca mendukung, dampak modifikasi cuaca bersifat lokal dan terbatas pada wilayah tertentu. Kondisi ini menjadi persoalan serius ketika modifikasi cuaca diterapkan untuk area yang sangat luas.

“Untuk wilayah yang cukup besar, modifikasi cuaca tidak efektif. Kalau tetap dipaksakan, itu hanya akan menjadi pemborosan anggaran atau sekadar menghambur-hamburkan dana,” tegas dia.

Lebih jauh, Sonni mengingatkan ketergantungan berlebihan pada modifikasi cuaca berisiko mengaburkan persoalan mendasar yang justru menjadi pemicu utama bencana hidrometeorologi. Seperti perubahan tata guna lahan, kerusakan daerah aliran sungai, deforestasi, hingga tata kelola lingkungan yang tidak berkelanjutan.

Baca juga: PLTSa akan Beroperasi Tahun 2027, Pakar Ingatkan Pembakaran Sampah Plastik Memicu Kanker

“Selama esensi masalahnya tidak diselesaikan, modifikasi cuaca akan terus menjadi tidak efektif. Ini hanya penanganan gejala, bukan penyakitnya,” ujar dia.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB UniversityKomisi V DPRMitigasi Cuaca EkstremTeknologi Modifikasi Cuaca

Editor

Next Post
Ilustrasi kelelawar pembawa virus Nipah. Foto ambquinn/pixabay.com.

Penelitian BRIN, Virus Nipah Terdeteksi Pada Satwa Liar di Indonesia

Discussion about this post

TERKINI

  • Kaoem Telapak desak pemerintah usut tuntas dugaan pembalakan liar dan pencucian kayu Merbau di Nabire, Papua Tengah. Foto Kaoem Telapak.Kaoem Telapak Desak Pemerintah Usut Tuntas Dugaan Pembalakan di Nabire
    In News
    Rabu, 4 November 2026
  • Media alternatif, Gejayan.id menggelar walking tour bertema “Tribute to Udin” #1 ke bekas Kantor Harian Bernas, Kota Yogyakarta. Foto Istimewa.Gejayan Civic Memory Lab: Napak Tilas Jurnalistik Udin di ‘Kantor Bernas’
    In News
    Senin, 2 November 2026
  • Episenter gempa 6,4 magnitudo di Laut Banda, Maluku, pada Kamis, 29 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Laut Banda Maluku Digoyang Gempa Menengah 6,4 Magnitudo
    In News
    Kamis, 29 Oktober 2026
  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Karhutla 2026, HRWG Tuntut Pemerintah Transparan Soal Data Lahan Terbakar dan Mengusut Pihak Bertanggungjawab
    In Lingkungan
    Senin, 26 Oktober 2026
  • Pertemuan 20 organisasi masyarakat sipil kawasan Asia Pasifik dalam Asia Pacific System Change Convergence 2026 di Yogyakarta, pada 17-21 Oktober 2026. Foto Istimewa.Organisasi Masyarakat Sipil Asia Pasifik Serukan Perubahan Sistem Mengakhiri Krisis Ekologis dan Ketidakadilan Global 
    In News
    Sabtu, 24 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media