Rabu, 13 Mei 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Parlemen Negara Asia Didesak Tagih Janji Pembiayaan Iklim dari Negara Maju

Komitmen pembiayaan iklim dari negara maju untuk negara berkembang dan tertinggal dijanjikan meningkat hingga US$300 miliar per tahun dari sebelumnya US$100 miliar per tahun pada 2035

Jumat, 13 Desember 2024
A A
Pertemuan Asian Parliamentary Assembly (APA) Standing Committee on Economic and Sustainable Development, di Manama, Bahrain, 9 Desember 2024. Foto Istimewa.

Pertemuan Asian Parliamentary Assembly (APA) Standing Committee on Economic and Sustainable Development, di Manama, Bahrain, 9 Desember 2024. Foto Istimewa.

Share on FacebookShare on Twitter

Pertemuan tersebut membahas tujuh resolusi. Meliputi resolusi terkait pasar energi di Asia, resolusi isu lingkungan, resolusi urusan keuangan dalam upaya memastikan langkah-langkah untuk pertumbuhan ekonomi, resolusi pemberantasan kemiskinan, resolusi peran parlemen dan SDGs, resolusi air dan sanitasi, hingga resolusi inisiatif pembiayaan iklim di Asia.

Baca Juga: Masyarakat Adat di Boven Digoel Tolak Izin Usaha Sawit di Hutan Adat Papua

DPR menyoroti tiga hal dalam pembahasan resolusi isu lingkungan di APA. Pertama, komitmen negara maju dalam pembiayaan iklim. Kedua, perlunya upaya untuk memberi contoh (lead by example). Ketiga, perlu integrasi demokrasi lingkungan hidup yang merupakan bagian dari Prinsip 10 Deklarasi Rio dalam proses legislasi dan kebijakan.

Dalam resolusi isu lingkungan, Mardani menambahkan ada banyak hal yang memerlukan peran terdepan dan kepemimpinan dari negara maju. Terlebih hal-hal tersebut telah termaktub dalam Perjanjian Paris.

“Sebagai contoh adalah terkait gaya hidup berkelanjutan dan pola berkelanjutan dari konsumsi dan produksi yang menurut Perjanjian Paris pelaksanaannya perlu mendapatkan contoh dari negara maju,” saran dia dalam resolusi.

Baca Juga: Penanganan Warga Terdampak Bencana Sukabumi, Pengungsian Terpusat hingga Psikososial

UNEP Adaptation Gap Report 2023 mencatat, bahwa berdasar kebutuhan, estimasi dana yang diperlukan untuk adaptasi berada di kisaran US$ 215 miliar hingga US$ 387 miliar per tahun. Namun, data menemukan sekira rentang US$ 194 – US$ 366 miliar per tahun merupakan catatan kesenjangan pembiayaan iklim khususnya adaptasi.

Siapkan tenaga kerja energi hijau

Dalam isu tenaga kerja, organisasi buruh dunia (International Labour Organization/ILO) memperkirakan ada potensi global sekira 24 juta pekerjaan baru dalam bidang ekonomi hijau pada 2030. Laporan ILO World Employment and Social Outlook pada 2018 memberikan catatan potensi global tersebut dapat terwujud asal kebijakan yang dihasilkan dapat tepat sasaran.

BKSAP DPR menekankan pentingnya Asia untuk berfokus pada peningkatan keahlian dalam pengembangan energi hijau. Dengan memberi perhatian lebih dan investasi pada pengembangan keahlian energi hijau, Asia dapat menjadi pasar tenaga kerja terdepan yang siap diserap industri energi terbarukan.

Baca Juga: Gunung Lewotobi Laki-laki Erupsi Lagi, Pakar Dorong Mitigasi Berbasis Sains

“Penyiapan pasar tenaga kerja untuk energi terbarukan dengan meningkatkan kepakaran hingga keterampilan para tenaga teknis, ahli hingga peneliti dalam industri energi terbarukan dapat menjadi penopang upaya negara-negara di Asia yang berjibaku mengurangi tingkat pengangguran,” urai Mardani.

Delegasi DPR RI bersama parlemen dari 15 negara bertemu di Bahrain untuk mendiskusikan beragam isu pembangunan berkelanjutan. Sekaligus dengan sejumlah resolusi yang berfokus pada isu energi, perubahan iklim, hingga lingkungan. DPR RI didapuk sebagai Wakil Ketua Komisi APA.

DPR diwakili Delegasi dari BKSAP yang terdiri dari Mardani Ali Sera (Ketua Delegasi/Ketua BKSAP/FPKS), Ravindra Airlangga (Anggota Delegasi/Wakil Ketua BKSAP/F-Partai Golkar), Stevano Adranacus (Anggota Delegasi/Anggota BKSAP/F-PDIP), dan Galih Dimuntur Kartasasmita (Anggota Delegasi/Anggota BKSAP/F-Partai Golkar). [WLC02]

Sumber: DPR

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: BKSAP DPR RIenergi hijauForum APAkomitmen pembiayaan iklimParis Agreementparlemen negara AsiaStanding Committee on Sustainable Development

Editor

Next Post
Angin kencang di Kabupaten Pandeglang, Banten, merobohkan pohon dan menimpa rumah warga. Foto BPBD Pandeglang.

Hati-hati Pohon Tumbang saat Cuaca Ekstrem, Ini Mitigasinya

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi tikus pembawa virus. Foto Bergadder/Pixabay.com.Mengenal Hantavirus, Penyakit Zoonosis dengan Rantai Penularan Utama dari Tikus
    In Rehat
    Rabu, 13 Mei 2026
  • Mengapati dan mendokumentasikan letusan Gunung Sakurajima di Jepang pada 2013 dari jauh. Foto Dok. Mirzam Abdurrachman.Erupsi Dukono, Pentingnya Pemahaman Risiko dan Peringatan Dini yang Mudah Dipahami
    In Rehat
    Selasa, 12 Mei 2026
  • Salah satu jenis anggrek Merapi. Foto Dok. TNG Merapi.Anggrek Merapi, Beraroma Wangi dan Mampu Bertahan Saat Erupsi
    In Rehat
    Selasa, 12 Mei 2026
  • Ilustrasi ,krisis air bersih. Foto Andres_maura_ph/Pixabay.com.Pemerintah Harus Antisipasi Krisis Sampah dan Air Bersih Dampak Godzilla El Niño 2026
    In Lingkungan
    Senin, 11 Mei 2026
  • Ilustrasi tikus pembawa virus. Foto Sipa/Pixabay.com.Mengenal Hantavirus Tipe HFRS di Indonesia dan Tipe HPS di Kapal Pesiar
    In Rehat
    Senin, 11 Mei 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media