Wanaloka.com – Sejarah mencatat, gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang Pangandaran pada 17 Juli 2006 pukul 15.19 WIB menjadi pemicu utama tsunami setinggi 4–8 meter di Pangandaran, Jawa Barat. Gelombang tersebut menyapu daratan sepanjang 250 kilometer di area pantai selatan Jawa, mulai dari Pangandaran, Jawa Tengah bagian selatan, hingga wilayah Yogyakarta selatan.
Tragedi besar ini merenggut 668 korban jiwa, menghancurkan tempat tinggal ribuan warga. Bahkan menjadi salah satu bencana paling banyak menelan korban jiwa di Indonesia setelah Tsunami Aceh pada Desember 2004.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menjelaskan Tsunami Aceh 2004 menjadi titik awal inisiasi pembangunan Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia (InaTEWS) dari hulu hingga hilir. Kemudian Tsunami Pangandaran menjadi tonggak percepatan pembangunan InaTEWS hingga diresmikan pada 2008.
Pascatsunami Pangandaran 2006, BMKG menguatkan InaTEWS yang kini bertransformasi secara signifikan melalui dukungan jaringan sensor seismograf real-time, ratusan stasiun pengukur pasang surut (tide gauge), serta sistem komputasi berkinerja tinggi.
“Melalui inovasi modern ini, BMKG kini mampu menyiarkan informasi peringatan dini tsunami dalam waktu kurang dari tiga menit setelah gempa bumi terjadi. Selanjutnya, aksi dini harus dijaga melalui edukasi yang tiada henti, simulasi rutin, dan kolaborasi lintas sektor,” kata Faisal pada webinar Peringatan 20 Tahun Tsunami di Pangandaran, Jawa Barat dalam judul “A 20 Years Commemoration of the 2006 Pangandaran Tsunami: Understanding The Past and Strengthening The Future Resilience“, Kamis, 16 Juli 2026.
Faisal mengingatkan, kecanggihan teknologi pemantauan di hulu tidak akan mampu menyelamatkan nyawa jika terputus dari masyarakat di sektor hilir. Pemerintah daerah dan masyarakat harus benar-benar memahami dan memanfaatkan informasi peringatan dini dari BMKG, lalu segera merespons dengan langkah-langkah dini yang tepat.
“Kesiapan dalam hitungan detik yang kritis inilah yang menjadi ujung tombak rantai keselamatan,” kata dia.
Masyarakat Siaga Tsunami
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama menyoroti tantangan psikologis masyarakat terhadap bencana tsunami yang termasuk kategori peristiwa langka (rare events). Karakteristik bencana yang jarang terjadi ini kerap membuat kesadaran risiko masyarakat memudar seiring berjalannya waktu. Nelly mengajak seluruh pihak untuk menjadikan peringatan 20 tahun ini sebagai wadah kolektif untuk merawat ingatan publik.
“Kesiapsiagaan akan terwujud selama kita terus menjaga kesadaran tersebut tetap hidup. Ini tanggung jawab kita bersama,” tegas Nelly.
Untuk mewujudkan aksi dini tersebut, BMKG secara intensif menjalin sinergi dengan BNPB, pemerintah daerah, dan kalangan akademisi melalui program-program berbasis komunitas, seperti pembentukan “Masyarakat Siaga Tsunami” (Tsunami Ready Community).






Discussion about this post