Wanaloka.com – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap jejak tsunami Aceh 2004 yang masih tersimpan di dalam lapisan tanah menggunakan teknologi Laser-Induced Breakdown Spectroscopy (LIBS). Teknologi ini mampu mengidentifikasi karakteristik kimia endapan tsunami secara cepat, akurat, dan lebih komprehensif dibandingkan beberapa metode analisis geokimia konvensional.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Fotonika BRIN, Rara Mitaphonna menjelaskan pemanfaatan teknologi LIBS tidak hanya memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Namun juga mendukung upaya mitigasi bencana. Informasi mengenai lokasi, ketebalan, dan karakteristik endapan tsunami masa lalu dapat digunakan untuk merekonstruksi jangkauan gelombang tsunami, memperkirakan besarnya energi tsunami, serta mengidentifikasi wilayah yang memiliki tingkat kerentanan tinggi.
“Data tersebut dapat menjadi dasar dalam penyusunan peta bahaya tsunami, perencanaan tata ruang kawasan pesisir, hingga pengembangan strategi mitigasi bencana yang lebih baik,” terang dia melalui keterangan tertulis, Senin, 6 Juli 2026.
Tsunami Samudra Hindia pada 26 Desember 2004 yang dipicu gempa Magnitudo Momen (Mw) 9,1 itu tidak hanya menimbulkan kerusakan besar dan korban jiwa, tetapi juga meninggalkan lapisan sedimen khas di wilayah pesisir. Material seperti pasir pantai, garam, cangkang organisme laut, mineral, lumpur, hingga material organik terbawa gelombang tsunami dan mengendap di daratan.
Seiring waktu, lapisan tersebut tertutup proses alami sehingga sulit dikenali hanya berdasarkan warna atau tekstur tanah.
“Inilah tantangan yang ingin kami pecahkan,” ujar dia.
Untuk mengidentifikasi jejak tsunami tersebut, ia dan tim mengambil sampel sedimen di Desa Pulot, Kabupaten Aceh Besar, salah satu wilayah yang terdampak paling parah. Sampel diambil hingga kedalaman lebih dari satu meter sehingga diperoleh susunan lapisan tanah yang lengkap, mulai dari tanah permukaan, lapisan endapan tsunami, hingga tanah yang terbentuk sebelum bencana.
Tembakan laser ke permukaan tanah
Rara menjelaskan teknologi LIBS bekerja dengan menembakkan pulsa laser berenergi tinggi ke permukaan sampel tanah. Dalam hitungan mikrodetik, permukaan sampel berubah menjadi plasma bersuhu sangat tinggi yang memancarkan cahaya. Kemudian cahaya itu dianalisis untuk mengetahui unsur-unsur kimia penyusun sedimen.
“Melalui cahaya yang dipancarkan plasma, kami dapat mengetahui unsur-unsur kimia yang terdapat pada setiap lapisan sedimen,” jelas dia.






Discussion about this post