Jumat, 21 Agustus 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Penanganan Bencana Tak Ramah Gender, Ini Solusinya

Perempuan dan laki-laki mempunyai kebutuhan pribadi yang berbeda. Begitu pun dalam penanganan bencana yang memposisikan mereka sebagai korban. Sayangnya, kebutuhan perempuan dan kelompok marginal lainnya acapkali terabaikan.

Minggu, 31 Juli 2022
A A
Ilustrasi perempuan dan anak pengungsi. Foto dimitrisvetsikas1969/pixabay.com.

Ilustrasi perempuan dan anak pengungsi. Foto dimitrisvetsikas1969/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Bencana tsunami menerjang sebuah desa nelayan di India pada 2004. Laki-laki warga desa yang bekerja menjadi nelayan tengah melaut saat tsunami terjadi. Riak gelombang di tengah lautan relatif lebih tenang. Sementara para perempuan yang tinggal di rumah yang berada di daratan langsung terpapar dampak bencana. Perempuan-perempuan itu langsung mengalami dua lapis dampak, yakni diterjang gelombang tinggi, sementara mereka tak bisa berenang.

Di Indonesia, bencana tsunami di Aceh pada 2004, maupun erupsi Gunung Merapi, dan bencana alam lainnya juga memberikan dampak yang lebih berat bagi perempuan ketimbang laki-laki. Mengingat perempuan acapkali menjadi pihak yang bertanggung jawab merawat anak dan orang tua di rumah. Bisa dibayangkan beban yang diterima perempuan saat terjadi bencana alam.

Baca Juga: Terjadi Gempa Letusan, Status Gunung Raung Naik Jadi Waspada

“Bencana punya dampak yang berbeda bagi perempuan dan laki-laki. Kelompok rentan seperti perempuan (juga anak-anak, orang tua, dan difabel) mendapat dampak multiple burden,” kata dosen Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, UGM, Doktor Suzie Handajani dalam diskusi bertema “Bangun Budaya Sadar Bencana, Minimalkan Risiko Bencana” pada April 2022 lalu.

Persoalannya, perbedaan kebutuhan tersebut belum terbaca masyarakat saat melakukan mitigasi bencana. Akibatnya, dalam penanganan bencana dan penanganan pascabencana, perempuan kerap tidak mendapat hal-hal yang dibutuhkan.

“Sebab penanganan perempuan disamaratakan dengan laki-laki,” kata Suzie.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: bencanagenderkelompok rentanlaki-lakimitigasi bencanaperempuan

Editor

Next Post
Ilustrasi nyamuk menggigit. Foto FotoshopTofs/pixabay.com.

Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penularan Penyakit Lewat Nyamuk

Discussion about this post

TERKINI

  • Diskusi dan pemutaran film Film dokumenter “Jejak Kolonial di Hutan Jawaˮ dalam Festival Udin 2026, 15 Agustus 2026. (Dok. Festival Udin 2026)Co-firing Biomassa dari Proyek Bioenergi Kayu di Jawa Korbankan Ekosistem Hutan dan Masyarakat
    In Lingkungan
    Selasa, 18 Agustus 2026
  • Upacara rakyat di Kendeng, Kabupaten Pati, 17 Agustus 2026. (Foto Istimewa)Upacara Rakyat di Kendeng Dihadiri Warga dan Petani yang Melawan Penambangan Karst
    In News
    Senin, 17 Agustus 2026
  • Upacara peringatan kemerdekaan RI oleh warga Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri di lahan pertaniannya, 17 Agustus 2026. (Foto Istimewa)Warga Pracimantoro: Kami Bukan Melawan Pembangunan, Kami Menjaga Kehidupan
    In News
    Senin, 17 Agustus 2026
  • Ilustrasi gerhana matahari total. Foto Dok. BMKG.Masyarakat Indonesia Bisa Saksikan Fase Gerhana Matahari Total 12 Agustus di Kanal NASA
    In News
    Minggu, 9 Agustus 2026
  • Bencana ekologis di Sumatra. Foto Walhi.Deklarasi Desk Disaster Walhi: Hentikan Narasi “Bencana Alam” untuk Menghapus Tanggung Jawab
    In Lingkungan
    Rabu, 5 Agustus 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media