Selasa, 9 Desember 2025
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Penanganan Bencana Tak Ramah Gender, Ini Solusinya

Perempuan dan laki-laki mempunyai kebutuhan pribadi yang berbeda. Begitu pun dalam penanganan bencana yang memposisikan mereka sebagai korban. Sayangnya, kebutuhan perempuan dan kelompok marginal lainnya acapkali terabaikan.

Minggu, 31 Juli 2022
A A
Ilustrasi perempuan dan anak pengungsi. Foto dimitrisvetsikas1969/pixabay.com.

Ilustrasi perempuan dan anak pengungsi. Foto dimitrisvetsikas1969/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Bencana tsunami menerjang sebuah desa nelayan di India pada 2004. Laki-laki warga desa yang bekerja menjadi nelayan tengah melaut saat tsunami terjadi. Riak gelombang di tengah lautan relatif lebih tenang. Sementara para perempuan yang tinggal di rumah yang berada di daratan langsung terpapar dampak bencana. Perempuan-perempuan itu langsung mengalami dua lapis dampak, yakni diterjang gelombang tinggi, sementara mereka tak bisa berenang.

Di Indonesia, bencana tsunami di Aceh pada 2004, maupun erupsi Gunung Merapi, dan bencana alam lainnya juga memberikan dampak yang lebih berat bagi perempuan ketimbang laki-laki. Mengingat perempuan acapkali menjadi pihak yang bertanggung jawab merawat anak dan orang tua di rumah. Bisa dibayangkan beban yang diterima perempuan saat terjadi bencana alam.

Baca Juga: Terjadi Gempa Letusan, Status Gunung Raung Naik Jadi Waspada

“Bencana punya dampak yang berbeda bagi perempuan dan laki-laki. Kelompok rentan seperti perempuan (juga anak-anak, orang tua, dan difabel) mendapat dampak multiple burden,” kata dosen Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, UGM, Doktor Suzie Handajani dalam diskusi bertema “Bangun Budaya Sadar Bencana, Minimalkan Risiko Bencana” pada April 2022 lalu.

Persoalannya, perbedaan kebutuhan tersebut belum terbaca masyarakat saat melakukan mitigasi bencana. Akibatnya, dalam penanganan bencana dan penanganan pascabencana, perempuan kerap tidak mendapat hal-hal yang dibutuhkan.

“Sebab penanganan perempuan disamaratakan dengan laki-laki,” kata Suzie.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: bencanagenderkelompok rentanlaki-lakimitigasi bencanaperempuan

Editor

Next Post
Ilustrasi nyamuk menggigit. Foto FotoshopTofs/pixabay.com.

Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penularan Penyakit Lewat Nyamuk

Discussion about this post

TERKINI

  • Padang lamun. Foto ugm.ac.id.Peta Karang dan Padang Lamun Jadi Landasan Ilmiah Pengelolaan Laut Indonesia
    In News
    Senin, 8 Desember 2025
  • Muhammad Syamsudin dan prototipe alat peringatan dini bencana. Foto Humas BMKG.Prototipe Peringatan Dini Bencana yang Dapat Dikendalikan Jarak Jauh
    In IPTEK
    Senin, 8 Desember 2025
  • Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Bambang Hero Saharjo. Foto Dok. IPB University.Bambang Hero, 1-2 Pohon Tumbang Itu Alami, Kalau Akibatkan Longsor Itu Ulah Manusia
    In Sosok
    Minggu, 7 Desember 2025
  • Punggungan pasir yang menjadi benteng alami tsunami di pesisir selatan Jawa. Foto Dok. BRIN.Pertambangan Pasir Mengikis Benteng Alami Penahan Tsunami di Selatan Jawa
    In Rehat
    Minggu, 7 Desember 2025
  • Pencemaran plastik di pesisir pantai. Foto TheDigitalArtist/pixabay.com.Rantai Mikroplastik Hingga Masuk ke Tubuh Manusia
    In Rehat
    Sabtu, 6 Desember 2025
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media