Kamis, 1 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Permasalahan Sampah di Yogyakarta, Bantul Bangun Pusat Riset Sampah Plastik

Penanganan sampah dengan elaborasi edukasi dan mekanisasi yang tepat guna akan mengubah perspektif sampah adalah masalah, menjadi sampah bernilai ekonomi.

Rabu, 26 Juli 2023
A A
Sampah plastik dapat dimanfaatkan menjadi material berguna dengan penerapan teknologi. Foto ilustrasi Wanaloka.com.

Sampah plastik dapat dimanfaatkan menjadi material berguna dengan penerapan teknologi. Foto ilustrasi Wanaloka.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Permasalahan sampah di Yogyakarta beberapa hari belakangan menjadi topik hangat dampak ditutupnya TPA Piyungan sejak 23 Juli hingga 5 September 2023.

Tata kelola sampah merupakan tanggung jawab bersama, tidak dapat diserahkan sepihak kepada pemerintah saja. Masyarakat harus andil penanganan sampah dari hulu hingga hilir. Sebab sampah yang dikelola secara tepat dapat bernilai ekonomi.

Menyadari permasalahan sampah kian pelik, Iwan Wijono dan Franziska Fennert menginisiasi pembangunan Monumen Antroposen yang berlokasi di Desa Bawuran, yang tak jauh dari TPA Piyungan. Pembiayaan proyek pembangunan Monumen Antroposen yang diarsiteki Dhoni Yudhano, kerja sama Kementerian Luar Negeri Jerman-Goethe Institut, dengan nilai Rp2,5 miliar. Dijadwalkan Monumen Antroposen yang tengah proses pembangunan itu selesai dua tahun mendatang.

Baca Juga: Permasalahan Sampah Walhi Yogyakarta Dorong Pemprov DIY Lakukan Lima Hal Ini

Monumen Antroposen dimaksudkan sebagai pusat riset pengolahan sampah plastik. Berangkat dari tujuan tersebut, material bangunan yang di antaranya digunakan hasil pengolahan sampah plastik yang sedemikian rupa menjadi material bangunan berupa bata, tegel dan genting.

Sepintas, bata dari sampah plastik tak berbeda dengan batu bata-material bangunan yang umum digunakan.

Dhoni Yudhano menjelaskan, dengan teknologi yang tepat serta efektif, didukung dengan pemasaran yang bagus, material ini bisa jadi alternatif dan komoditas pasar dengan harga yang bersaing.

“Monumen ini dapat menjadi pusat pembelajaran di tempat lain melakukan pemrosesan sampah dengan metode yang sama secara masif dan sporadis,” harapan Dhoni.

Baca Juga: Dampak TPA Piyungan Ditutup, Tumpukan Sampah di Kota Yogya Mulai Terlihat

Melihat hasil inovasi material bangunan Monumen Antroposen yang digunakan, Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyebutkan, sampah plastik tidak sepenuhnya menjadi masalah.

“Justru dapat menjadi faktor ekonomi baru untuk sistem ekonomi yang berputar atau circular economy,” kata Halim saat meninjau pembangunan Monumen Antroposen pada Selasa, 25 Juli 2023.

Memilah sampah

Penjabat Wali Kota Yogyakarta Singgih Raharjo mengimbau warga tidak panik menyoal sampah ekses dari penutupan sementara TPA Piyungan. Singgih menganjurkan warga dapat mengolah sampah organik secara sederhana, dan memilah sampah anorganik bisa menambah perekonomian.

Pemerintah Kota Yogyakarta merancang beberapa kebijakan penanggulangan dampak penutupan sementara TPA Piyungan di Bantul.

Baca Juga: Menuntaskan Masalah Sampah dari Hulu ke Hilir Versi KLHK

Singgih mengutarakan, ada empat lokasi yang disiapkan untuk penanganan sampah sementara di antaranya tempat pengolahan sampah reduce reuse recycle (TPS3R) di Nitikan.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Bank sampahdepo sampahGerakan Zero Sampah AnorganikKabupaten BantulKota Yogyakartapengelolaan sampahsampah di YogyakartaTPA Piyungan

Editor

Next Post
Karhutla di Pulau Pisau, Kalimatan Tengah dengan luas lahan empat hektar. Foto Polsek Maliku.

Kejahatan Lingkungan PT Rafi Kamajaya Abadi Dihukum Rp920 Miliar

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media