Minggu, 8 November 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Populasi Gajah Sumatera Kritis, Pakar Serukan Mitigasi Konflik Gajah dengan Manusia

Tantangan utama di lapangan adalah konflik manusia dan gajah akibat perubahan fungsi lahan, serta hilangnya habitat alami.

Selasa, 12 Agustus 2025
A A
Gajah Sumatera di lokasi konservasi di Tangkahan, Sumatra Utara. Foto Soetana Monang Hasibuan/Wanaloka.com.

Gajah Sumatera di lokasi konservasi di Tangkahan, Sumatra Utara. Foto Soetana Monang Hasibuan/Wanaloka.com.

Share on FacebookShare on Twitter

“Respons induk gajah menyerang truk yang menabrak anaknya menunjukkan insting alami dan ikatan sosial kuat pada gajah. Secara umum, gajah dikenal sebagai satwa liar dengan insting perlindungan tinggi terhadap anaknya,” jelas dia, Jumat, 8 Agustus 2025.

Baca juga: Peternakan Sapi Perah di Pegunungan Arfak akan Dihidupkan Lagi

Konsep koeksistensi manusia dan gajah seperti yang diterapkan di koridor Pekanbaru–Dumai adalah bentuk konservasi realistis yang dapat dikembangkan.

“Pendekatan ini integratif, apalagi gajah dekat dengan manusia. Contohnya, penggunaan gajah jinak untuk mengendalikan gajah liar sekaligus diintegrasikan dengan wisata,” tutur dia.

Ia juga mengapresiasi pembangunan terowongan lintasan gajah di Tol Pekanbaru–Dumai sebagai solusi konkret mitigasi konflik. Ini adalah alternatif mitigasi konflik di perbatasan habitat gajah dan kawasan masyarakat. Gajah memiliki pola pergerakan alami berulang sesuai musim, sehingga infrastruktur seperti ini penting untuk direplikasi di lokasi lain.

Baca juga: Biandro Wisnuyana, Kecerdasan Buatan Jadi Pisau Bermata Dua Bagi Masyarakat Adat

Risiko serupa juga ditemukan di jalan lintas Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang menghubungkan Provinsi Lampung dan Bengkulu. Ia juga menunjukkan hasil penelitian disertasi mahasiswa bimbingannya terkait model pengembangan “hidup berdampingan” di wilayah Aceh. Penelitian tersebut merumuskan rekomendasi pendekatan mitigasi konflik gajah yang masuk areal perkebunan masyarakat.

“Hasi riset menunjukkan, masyarakat dapat memilih tanaman perkebunan berbasis preferensi gajah. Secara budaya, kerusakan tanaman oleh gajah bisa dianggap sebagai ‘amal sholeh’, selama tidak menimbulkan kerugian ekonomi signifikan,” kata dia.

Burhanuddin menekankan pentingnya kebijakan mitigasi yang sistematis dan kolaboratif. Ia merekomendasikan dua langkah prioritas. Pertama, implementasi UU Nomor 32 Tahun 2024 tentang Areal Preservasi (koridor satwa) secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Baca juga: Kementerian Kehutanan Targetkan Penetapan 100 Ribu Ha Hutan Adat 2025

Kedua, pengembangan pusat konservasi gajah sebagai lembaga konservasi eks situ yang berfungsi untuk pelestarian sekaligus wisata edukasi.

Pelestarian gajah Sumatera yang kini terancam punah hanya dapat dicapai melalui pendekatan kolaboratif dan inovatif.

“Konservasi tidak boleh berdiri sendiri. Kita harus mampu menyelaraskan pembangunan dan kelestarian alam secara seimbang,” kata dia. [WLC02]

Sumber: Kementerian Kehutanan, IPB University

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Elephas maximus sumatranusGajah SumateraHari Gajah Seduniakonflik dengan manusiaPECI AcehSatwa liar

Editor

Next Post
Identifikasi jalur rob di Pekalongan dengan teknologi ForeINTiFlood. Foto Dok. BRIN.

Teknologi ForeINTiFlood Ungkap Tiga Titik Rawan Jalur Masuk Rob di Pekalongan

Discussion about this post

TERKINI

  • Kaoem Telapak desak pemerintah usut tuntas dugaan pembalakan liar dan pencucian kayu Merbau di Nabire, Papua Tengah. Foto Kaoem Telapak.Kaoem Telapak Desak Pemerintah Usut Tuntas Dugaan Pembalakan di Nabire
    In News
    Rabu, 4 November 2026
  • Media alternatif, Gejayan.id menggelar walking tour bertema “Tribute to Udin” #1 ke bekas Kantor Harian Bernas, Kota Yogyakarta. Foto Istimewa.Gejayan Civic Memory Lab: Napak Tilas Jurnalistik Udin di ‘Kantor Bernas’
    In News
    Senin, 2 November 2026
  • Episenter gempa 6,4 magnitudo di Laut Banda, Maluku, pada Kamis, 29 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Laut Banda Maluku Digoyang Gempa Menengah 6,4 Magnitudo
    In News
    Kamis, 29 Oktober 2026
  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Karhutla 2026, HRWG Tuntut Pemerintah Transparan Soal Data Lahan Terbakar dan Mengusut Pihak Bertanggungjawab
    In Lingkungan
    Senin, 26 Oktober 2026
  • Pertemuan 20 organisasi masyarakat sipil kawasan Asia Pasifik dalam Asia Pacific System Change Convergence 2026 di Yogyakarta, pada 17-21 Oktober 2026. Foto Istimewa.Organisasi Masyarakat Sipil Asia Pasifik Serukan Perubahan Sistem Mengakhiri Krisis Ekologis dan Ketidakadilan Global 
    In News
    Sabtu, 24 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media