Jumat, 3 Juli 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

PSN di Merauke Mengancam Otonomi Khusus Papua

PSN diproyeksikan menjadi solusi pemerataan ekonomi. Faktanya, masyarakat adat Papua menolaknya. Sebab PSN menanggalkan prinsip-prinsip pengakuan, penghormatan, dan perlindungan masyarakat adat.

Selasa, 24 Desember 2024
A A
Salah satu lahan di Marauke untuk PSN food estate. Foto Dok. YLBHI.

Salah satu lahan di Marauke untuk PSN food estate. Foto Dok. YLBHI.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Proyek Strategis Nasional (PSN) Kawasan Pengembangan Pangan dan Energi Merauke di Papua Selatan melalui Peraturan Menteri Koordinator Perekonomian Nomor 8 Tahun 2023 mengakibatkan persoalan serius. Alih-alih mendorong terwujudnya tata ruang dan pengelolaan sumber daya agraria yang berkeadilan, akselerasi PSN ke Merauke di Papua Selatan justru memperpanjang usia konflik agraria di wilayah tersebut.

Dalam peluncuran dan media briefing laporan desk hukum Center of Economic and Law Studies (CELIOS) yang bertajuk PSN Menggerus Otsus dan Hak Orang Asli Papua, Senin, 23 Desember 2024 memperlihatkan sejumlah masalah hukum, kelembagaan dan agraria terjadi.

Pemekaran daerah melalui revisi Undang-Undang (UU) Otonomi Khusus Papua mempermudah praktik perampasan lahan masyarakat adat karena kekosongan hukum dalam pengaturan kawasan dan tata ruang yang disengaja. Temuan-temuan itu meliputi:

Baca juga: Bekas Longsor Ditemukan di TN Betung Kerihun Kalimantan Barat

Pertama, melalui revisi UU Otsus Papua (UU Nomor 2 Tahun 2021), Pemerintah Pusat menghapus kewenangan pembentukan Perdasus dan Perdasi dalam urusan pemerintahan, yang  memungkinkan Pemerintah Daerah merumuskan kebijakan protektif.

Kedua, terdapat 133 peraturan sektoral di berbagai bidang yang ditetapkan pemerintah pusat untuk menjalankan ragam PSN di daerah.

Ketiga, Tanah Papua tak bertuan adalah mitos. Saat ini, lebih dari 1 juta hektare lahan dan hutan Papua Selatan merupakan wilayah adat. Artinya, Papua Selatan bukanlah tanah kosong tanpa pemilik (terra nullius).

Baca juga: Gempa Dangkal Goyang Selatan Sukabumi Jawa Barat

Keempat, rakus terhadap hutan dan lahan adat. Masyarakat adat tidak melepaskan tanah adat mereka, tetapi tetap kehilangan hutan dan lahan akibat ekstensifikasi PSN. Hal tersebut memicu praktek perampasan lahan (land grabbing) yang memperburuk ketimpangan penguasaan lahan.

Kelima, ketimpangan lahan yang meningkat. PSN mencadangkan hampir 50 persen dari total luas administratif Kabupaten Merauke untuk keperluan konsesi perusahaan.

Masyarakat adat tak dukung PSN

Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua Pos Merauke, Johny Teddy Wakum mengungkapkan ada penolakan masyarakat adat di berbagai distrik, termasuk Ilwayab, Tubang, Okaba, Eligobel, Sota, Ngguti, Kaptel, Kimaam, dan Padua.

Baca juga: Penangkapan Ikan dengan Bom Masih Marak di Indonesia Timur

Bahkan, LBH Papua mencatat masyarakat adat, seperti Marga Moiwend, Gebze, Basik-Basik, dan lainnya, tidak pernah secara sukarela menyerahkan tanah mereka. Namun, proses alih fungsi lahan tetap berlangsung di atas wilayah adat.

“Kami menyerukan agar prinsip-prinsip pengakuan, penghormatan, dan perlindungan masyarakat adat dijadikan prioritas dalam kebijakan pengelolaan sumber daya alam, khususnya di tanah Papua,” tegas Teddy.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: CELIOSKabupaten MeraukeLBH PapuaMasyarakat AdatOtonomi Khusus PapuaPSN

Editor

Next Post
Penampakan dua macan Tutul Jawa di TN Gunung Ciremai, Jawa Barat. Foto Balai TNGC.

Tiga Macan Tutul Jawa Asli TN Gunung Ciremai Terpantau Kamera Jebak

Discussion about this post

TERKINI

  • Penggusuran PT BSMJ di wilayah adat Muara Tae, Kabupaten Kutai Barat untuk sawit. Foto Dok. Kaoem Telapak.Kaoem Telapak Desak Ekspansi Sawit di Wilayah Adat Muara Tae Dihentikan
    In News
    Sabtu, 27 Juni 2026
  • Bentang alam Masyarakat Adat Kasepuhan Pasir Eurih di Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten. Komunitas ini mempertahankan sistem zonasi tradisional sebagai dasar pengelolaan wilayah adat yang diwariskan. Foto Dok. WGII.Paradoks Penetapan Taman Nasional, Pengetahuan Hidup Masyarakat Adat Terancam Punah
    In Lingkungan
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Laskar Talijiwo dari Pracimantoro, Wonogiri sampaikan penolakan tambang dan pabrik semen kepada Bupati Wonogiri, 25 Juni 2026. Foto Dok. Laskar Talijiwo.Temui Bupati Wonogiri, Laskar Talijiwo Sampaikan Tolak Tambang Gamping dan Pabrik Semen
    In News
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Ilustrasi sampah organik dari sisa buah-buahan. Foto Artis Digital/pixabay.com.Temuan Ombudsman DIY, Aktivitas TPS 3R Sokowaten Tak Berizin dan Sebabkan Pencemaran
    In News
    Senin, 22 Juni 2026
  • Acara ISWBC 2026 bertema Beyond Species: Rethinking Conservation in an Era of Uncertainty, 11 Juni 2026. Foto Leoni/UGM.Pejabat Kehutanan Bicara Peran Masyarakat Adat Menjaga Biodiversitas Saat Krisis Iklim
    In News
    Sabtu, 20 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media