Sabtu, 10 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Istana Garuda dari Tembaga, Tahan Korosi, Konduktor yang Baik

Disebut dari bilah tembaga untuk peneduh dari sinar matahari, menghindari efek rumah kaca. Dinding kaca dapat dibuka untuk sirkulasi udara, mengurangi penggunaan AC dan meningkatkan efisiensi energi.

Sabtu, 3 Agustus 2024
A A
Desain Istana Garuda di IKN. Foto Dok. Kemenparekraf.

Desain Istana Garuda di IKN. Foto Dok. Kemenparekraf.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Istana Garuda adalah salah satu bangunan yang akan menjadi ikon pusat pemerintahan di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Di gedung ini, presiden akan berkantor. Sementara Kompleks Istana Kepresidenan di IKN disebut dengan Istana Negara.

Istana Garuda memiliki desain unik serta sarat makna. Bangunan ini menggabungkan unsur-unsur tradisional dan modern, sehingga Istana Garuda merepresentasikan identitas bangsa yang dinamis dan terus berkembang.

Adalah maestro seni patung lulusan dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Nyoman Nuarta di balik konsep dan desain bangunan istana itu. Dia mencoba untuk mengintegrasikan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia ke dalam setiap detail desain Istana Garuda.

Baca Juga: Riset BRIN, Embung Jadi Solusi Atasi Defisit Air di Pulau Bintan

Konsep Green Design

Nyoman Nuarta dinilai mencoba untuk mengintegrasikan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia ke dalam setiap detail desain burung garuda sebagai lambang negara. Penggunaan simbol burung garuda memberikan kesan ikonik dan menarik perhatian wisatawan. Menurut Nyoman Nuarta, hal ini sekaligus dapat mendorong pertumbuhan industri perhotelan, transportasi, biro perjalanan, kios souvenir dan industri kecil setempat.

“Untuk Istana Garuda, saya mengusulkan konsep archsculpt yang menggabungkan seni patung dengan arsitektur. Seperti yang dilakukan oleh seniman besar seperti Michelangelo, Leonardo da Vinci, dan I Gusti Nyoman Lempad pada bangunan seperti gereja dan pura, saya menciptakan Istana Garuda dengan dua fungsi,” ucap dia dikutip dari buku Peringatan 101 Tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia (PTTI).

Pertama, fungsi estetis. Seperti patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bali, Istana Garuda di IKN dinilai akan menjadi karya seni monumental yang mewakili sosok burung Garuda. Sejak diperkenalkan oleh Presiden Soekarno pada 11 Februari 1950, Garuda Pancasila telah menjadi simbol negara Indonesia yang menyatukan bangsa yang beragam suku, agama, dan bahasa.

Baca Juga: Tradisi Brandu Diduga Memicu Penularan Wabah Antraks di Gunungkidul

Kalimat “Bhinneka Tunggal Ika” di kaki Garuda, yang berarti “berbeda-beda tetapi tetap satu,” memperkuat makna persatuan ini. Garuda Pancasila, meski awalnya bernuansa politis, juga terinspirasi dari kitab Sutasoma oleh Mpu Tantular di masa Majapahit.

Tak hanya itu, frasa “Bhinneka Tunggal Ika” menegaskan Indonesia sebagai kesatuan dari mozaik budaya yang menciptakan bangsa Indonesia.

Kedua, fungsi pragmatis. Di mana Istana Garuda akan menjadi tempat untuk Presiden mengelola pemerintahan sehari-hari.

Baca Juga: Cuaca Jadi Ancaman Perkembangan Ekonomi Dunia 10 Tahun Mendatang

“Bangunan ini dirancang dengan konsep green design. Sosok Garuda akan dibentuk dari bilah tembaga vertikal yang juga berfungsi sebagai peneduh dari sinar matahari untuk menghindari efek rumah kaca. Dinding kaca dapat dibuka untuk sirkulasi udara, mengurangi penggunaan AC dan meningkatkan efisiensi energi,” papar dia.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: green designIKNIstana GarudaNyoman Nuarta

Editor

Next Post
Ilustrasi tenaga listrik tenaga angin dengan baling-baling. Foto meineresterampe/pixabay.com

Pembangkit Listrik Tenaga Angin Tanpa Baling-baling, Mungkinkah?

Discussion about this post

TERKINI

  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 mengusung desakan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Agraria Kritik Penunjukan Kepala BRAN
    In News
    Jumat, 2 Oktober 2026
  • Pusat gempa dangkal 5,4 magnitudo di Pantai Timur Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada Kamis malam, 1 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Gempa Dangkal di Laut Flores Kepulauan Selayar Dirasakan IV MMI
    In News
    Kamis, 1 Oktober 2026
  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media