Senin, 14 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

RUU TPKS Disetujui Jadi Inisiatif DPR RI

Selasa, 18 Januari 2022
A A
RUU TPKS disetujui sebagai RUU inisiatif DPR RI dalam rapat paripurna di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Selasa, 18 Januari 2022. Foto dpr.go.id

RUU TPKS disetujui sebagai RUU inisiatif DPR RI dalam rapat paripurna di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Selasa, 18 Januari 2022. Foto dpr.go.id

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (RUU TPKS) disetujui menjadi RUU inisiatif DPR RI. Keputusan ini dicapai dalam rapat paripurna RUU TPKS di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, pada Selasa, 18 Januari 2022.

Fraksi Partai Demokrat dalam pandangannya menegaskan, perlunya penegakan hukum yang konsisten sesuai dengan asas keadilan agar dapat memberikan kepastian hukum bagi korban dan pelaku. Terlebih, langkah-langkah preventif kekerasan seksual masih dianggap lemah dan membutuhkan manajemen pencegahan dan penanggulangan yang bersifat komprehensif.

Partai berlogo mercy ini juga mengemukakan permasalahan tindak pidana kekerasan seksual diatur dalam perundang-undangan terpisah seperti KUHP dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, dan belum ada suatu peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang kekerasan seksual secara spesifik dan terintegrasi.

Baca Juga: Puan Janjikan RUU TPKS Disahkan Jadi Inisiatif DPR pada 18 Januari 2022

Juru bicara Fraksi Partai Demokrat, Rezka Oktoberia menegaskasn fraksinya  mendukung RUU TPKS dengan catatan mendorong revitalisasi pada aspek penegakan hukum agar dapat memperkuat perlindungan terhadap saksi dan korban, serta peran aktif dalam proses pendampingan dan pemulihan kondisi korban kekerasan seksual.

Pandangan Fraksi PKB yang disampaikan Neng Eem Marhamah menyampaikan lima catatan. Pertama, pencegahan kekerasan seksual yang sistemik dan partisipatoris, perlindungan hukum, keadilan dan pemulihan bagi korban, hukum acara yang menjamin korban mendapatkan perlindungan dan keadilan, hingga sanksi dan rehabilitasi bagi pelaku.

Baca Juga: Jokowi Genjot Transformasi Ekonomi Hijau sekaligus Ekspor Turunan Bahan Tambang 

Kedua, memberikan perlindungan kepada korban yang sangat banyak jumlahnya dan beragam penderitaannya, yang belum mendapatkan perlindungan hukum yang semestinya saat ini dan tidak tersandera oleh kekhawatirkan yang sifatnya dugaan sesuai kaidah. Ketiga, RUU TPKS tidak cukup hanya mengatur pencegahan karena pencegahan saja tidak mampu mengatasi kekerasan seksual yang sudah terjadi dan dampak yang ditimbulkannya, dari segi fisik, sosial, ekonomi, moral, spiritual, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Keempat, RUU TPKS perlu mengatur aspek hukum acara yang memudahkan pihak yang terdzolimi (korban, keluarga korban, dan pendamping korban) mendapatkan hak-haknya, dan kelima, RUU TPKS perlu mengatur pemantauan memastikan berjalannya perlindungan setiap warga negara dari kekerasan seksual melalui melalui Lembaga Nasional HAM yang mempunyai mandat spesifik penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

Baca Juga: Kebijakan Penanganan Covid-19 Varian Omicron Berubah-ubah, Ini Alasannya

“Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa dengan mengucapkan Bismilahirrahmanirrahlim, menyetujui RUU TPKS menjadi RUU inisiatif DPR dan selanjutnya dibahas lebih lanjut sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,“ tegas Neng Eem Marhamah.

Sementara pandangan Fraksi Partai Gerindra yang dibacakan Renny Astuti, menyoroti frasa kekerasan dalam RUU TPKS. Partai Gerindra berpendapat kata kekerasan pada RUU TPKS bermakna ambigu.

“Menurut kami, kata kekerasan identik bersifat fisik. Sementara dalam RUU ini juga mengatur tindak pidana seksual yang bersifat nonfisik. Selain itu kata kekerasan bertendensi bahwa RUU ini lebih mengedepankan penindakan, padahal paradigma pencegahan jauh lebih penting atau setidak-tidaknya harus berimbang antara pencegahan dan penindakan,” kata Renny.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: DPR RIkekerasan seksualKomnas PerempuanPresiden JokowiPuan MaharaniRUU TPKS

Editor

Next Post
Personel BPBD Kabupaten Pasuruan mengevakuasi warga terdampak banjir. Foto Dok BNPB.

Waspada Bencana Hidrometeorologi Pekan Ini

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media