Senin, 19 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Sebelas Strategi Wujudkan FOLU Net Sink 2030 dan Kolaborasi Lima Kementerian

Sektor kehutanan punya porsi lebih besar untuk mewujudkan Indonesia's FOLU Net Sink 2030. Meski demikian perlu kolaborasi dengan empat sektor lain.

Jumat, 26 Agustus 2022
A A
Ilustrasi bumi. Foto geralt/pixabay.com.

Ilustrasi bumi. Foto geralt/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Forestry and Other Land Uses (FOLU) Net Sink 2030 merupakan kondisi suatu tempat di mana tingkat serapan karbon sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya sudah berimbang atau lebih tinggi dari tingkat emisi yang dihasilkan sektor tersebut pada 2030.

FOLU Net Sink 2030 di Indonesia pun mendorong kinerja sektor kehutanan menuju target pembangunan yang sama, yaitu tercapainya tingkat emisi gas rumah kaca sebesar minus 140 juta ton CO2e pada tahun 2030.

“Pijakan dasar utamanya adalah sustainable forest management, environmental governance, dan carbon governance,” kata Direktur Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Ruandha Agung Sugardiman dalam acara Sosialisasi Sub Nasional Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 di Lampung, 22 Agustus 2022 secara virtual.

Baca Juga: Target FoLU Net Sink 2030 Indonesia akan Didukung Teknik Silvikultur Intensif

Ada strategi pencapaian Indonesia’s FOLU Net Sink 203 melalui 11 langkah operasional mitigasi sektor FOLU. Meliputi:

  1. Pengurangan laju deforestasi lahan mineral
  2. Pengurangan laju deforestasi lahan gambut
  3. Pengurangan laju degradasi hutan lahan mineral
  4. Pengurangan laju degradasi hutan lahan gambut
  5. Pembangunan hutan tanaman
  6. Sustainable forest management
  7. Rehabilitasi dengan rotasi
  8. Rehabilitasi non rotasi
  9. Restorasi gambut
  10. Perbaikan tata air gambut
  11. Konservasi keanekaragaman hayati.

Baca Juga: RI-AS Tandatangani MoU Dukungan terhadap FOLU Net Sink 2030

Capaian FOLU Net Sink 2030 sangat ditentukan pengurangan emisi dari deforestasi dan lahan gambut. Selain itu, juga ditentukan dari peningkatan kapasitas hutan alam dalam penyerapan karbon, restorasi dan perbaikan tata air gambut, restorasi dan rehabilitasi hutan, pengelolaan hutan lestari, serta optimasi lahan tidak produktif.

“Dan diperlukan pengembangan berbagai instrumen kebijakan baru, pengendalian sistem monitoring, dan evaluasi dan pelaksanaan komunikasi publik,” imbuh Ruandha.

Ke depan, mangrove juga menjadi peluang untuk dielaborasi dalam Rencana Operasional FOLU Net Sink 2030. Lantaran kapasitas mangrove untuk mengurangi emisi dari sektor lahan belum diperhitungkan, baik di dalam Nationally Determined Contribution (NDC) maupun di dalam dokumen Long Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience (LTS-LCCR) 2050. NDC adalah komitmen setiap negara terhadap Paris Agreement, sedangkan LTS-LCCR adalah dokumen komunikasi visi upaya dan aksi yang diimbau disiapkan negara yang merativikasi Perjanjian Paris.

Baca Juga: Konsorsium Hari Hutan Indonesia Lahir dari Momentum Moratorium Pembukaan Hutan

Kehutanan Tumpuan Pengurangan Emisi

Inti dari kegiatan FOLU adalah kegiatan teknis di tingkat tapak melalui tiga aksi. Pertama, aksi pengurangan emisi gas rumah kaca, misalnya dengan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan mengurangi deforestasi. Kedua, aksi mempertahankan serapan emisi dengan cara menjaga dan mempertahankan kondisi tutupan hutan-hutan yang ada. Ketiga, meningkatkan serapan emisi dengan rehabilitasi hutan dan lahan serta membuat hutan-hutan tropis baru.

“Indonesia harus menurunkan emisi hingga 29 persen dari Business As Usual pada 2030. Bahkan bisa mencapai 41 persen lebih rendah apabila ada dukungan dari international,” harap Ruandha.

Dari target penurunan emisi 41 persen tersebut, 24,1 persen berasal dari sektor kehutanan. Artinya, sektor kehutanan memiliki porsi terbesar, yakni 60 persen dari total kewajiban Indonesia untuk menurunkan emisinya.

Baca Juga: AS Nilai RI Mitra Strategis Atasi Perubahan Iklim, Ini Klaim Alasannya

“Sektor kehutanan menjadi tumpuan Indonesia untuk bisa menurukan emisi gas rumah kacanya,” ucap Ruandha.

Dengan demikian perlu menyusun Rencana Operasional Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 sampai ke tingkat provinsi dan daerah. Tujuannya, agar penurunan emisi 60 persen dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya dapat tercapai.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: FOLU Net Sink 2030Indonesia's FOLU Net Sink 2030kehutananKLHKkolaborasiLTS-LCCRNDC

Editor

Next Post
Genteng energi surya buatan mahasiswa Teknik UGM. Foto ugm.ac.id.

Genteng Energi Surya Buatan Mahasiswa UGM Bisa Dibersihkan Lewat Ponsel

Discussion about this post

TERKINI

  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Mitigasi Krisis Iklim, Suhu Permukaan Meningkat Tren Curah Hujan Menurun
    In Lingkungan
    Sabtu, 17 Oktober 2026
  • Ratusan Perempuan Adat dari berbagai wilayah Nusantara berkumpul dalam Temu Nasional (Temunas) IV di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Foto Dok Perempuan AMAN.Temunas IV Perempuan AMAN: Perempuan Adat Perkuat Kepemimpinan dan Kedaulatan
    In News
    Jumat, 16 Oktober 2026
  • Gedung KPK | kpk.go.id.OTT KPK di BNPB, Kepala BNPB Langsung Diganti
    In News
    Kamis, 15 Oktober 2026
  • Dampak karhutla, wilayah Kota Palembang, Provinsi Sumatra Selatan, diselimuti kabut asap pada Kamis, 8 Oktober 2026. Foto BNPB.Respons Protes Negara Jiran Dampak Karhutla, Prabowo Perintahkan Penanganan Optimal
    In Bencana
    Selasa, 13 Oktober 2026
  • Bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh, yang terjadi pada Jumat, 9 Oktober 2026. Foto BPBD Kabupaten Gayo Lues.Bencana Banjir dan Longsor Landa Aceh dan Sumatra Barat Ratusan Penduduk Mengungsi
    In Bencana
    Senin, 12 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media