Jumat, 26 Juni 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Siap Siaga, September Rawan Karhutla

Sabtu, 16 September 2023
A A
Polusi udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Foto Manggala Agni VI Daop Tanah Laut.

Polusi udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Foto Manggala Agni VI Daop Tanah Laut.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi bencana yang mesti diwaspadai pada bulan September ini. Mengingat berdasarkan analisis prakiraan, puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada bulan Agustus – September dan sebagian besar wilayah di Indonesia telah memasuki musim kemarau.

“Cuaca untuk wilayah Indonesia pada September ini masih sangat panas. Ini bisa penyebab munculnya karhutla. Jadi peringatan bersama untuk waspada dan siap siaga,” kata Tenaga Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Bidang Manajemen Landscape Fire, Raffles B Panjaitan.

Sejauh ini upaya mitigasi karhutla yang dilaksanakan antara lain memetakan wilayah rawan kebakaran untuk ditangani; pengelolaan kawasan hutan dengan membuat ilaran, sekat bakar, sekat kanal; pengembangan hutan kemasyarakatan; pengembangan sistem peringatan dini kebakaran hutan; serta pelatihan penanggulangan bencana bagi masyarakat dan pengembangan inovasi pengendalian karhutla kebakaran hutan.

Baca Juga: Sewindu PSN, Jokowi: Penyelesaian Proyek Jangan Represif

Menurut Raffles, upaya tersebut mengurangi potensi kerawanan karhutla dengan kondisi cuaca karena dampak El Nino seperti tahun 2015 dan 2019. Asalkan dilakukan bersama semua pihak, termasuk pemerintah daerah, organisasi non-pemerintah, dan masyarakat luas, untuk mengurangi risiko dan dampak dari karhutla.

Jika dibandingkan dengan Januari-Agustus 2022, luas karhutla di Indonesia mengalami kenaikan seluas 128.426,47 ha. Namun wilayah konvensional rawan karhutla mengalami penurunan, seperti Riau turun seluas 1.592 ha, Sumut seluas 4.535 ha, dan Jambi seluas 445 ha.

Tahun ini, karhutla terjadi di Kawasan Hutan (wilayah kelola KLHK) seluas 135.115,68 Ha (± 50,4 persen) dan Areal Penggunaan Lain (APL) atau wilayah non kelola KLHK seluas 132.819,91 Ha (± 49,6 persen) dari total luas karhutla di Indonesia.

Baca Juga: Dwikorita Karnawati: Perlu Komitmen Politik Kepala Negara Atasi Krisis Air

Provinsi dengan luas karhutla tertinggi meliputi Kalbar, NTT, NTB, Kalimantan Selatan, Papua Selatan, dan Jawa Timur. Karhutla di Kalimantan Barat terjadi pada kawasan hutan seluas 1.438,69 Ha yang mayoritas berada di hutan lahan kering sekunder. Sedangkan area non hutan seluas 52.964,12 ha berada di area pertanian lahan kering/campur, perkebunan, belukar, dan sebagainya.

Karhutla di Kalimantan Selatan seluas 24.588,89 ha dengan karhutla mayoritas di area non hutan seluas 24.456,53 ha. Lokasinya berada di wilayah belukar, sawah, perkebunan, pertanian lahan kering, dan sebagainya. Karhutla di Nusa Tenggara Barat seluas 26,453,82 ha mayoritas terjadi di areal non hutan seluas 26.142,12 yang didominasi pertanian lahan kering, belukar, sawah, dan sebagainya.

Karhutla di Nusa Tenggara Timur seluas 50.396,79 ha. Mayoritas terjadi pada non hutan seluas 48.166,20 ha yang banyak terjadi pada lahan belukar, pertanian lahan kering campur, pertanian lahan kering, dan sebagainya. Karhutla di Papua Selatan seluas 22.121,31 ha. Mayoritas terjadi pada lahan non hutan seluas 21.813,59 ha yang mayortas terjadi pada belukar, rawa, tanah terbuka, dan sebagainya.

Baca Juga: Pulihkan Ekosistem Hutan Produksi Terdegradasi Lewat Silvikultur Intensif

Karhutla di Jawa Timur seluas 18.780,94 ha mayoritas terjadi pada area hutan seluas 18.780 ha. Baik terjadi di hutan lahan kering sekunder dan area non hutan seluas 5.867,04 ha yang meliputi lahan sawah, pertanian lahan kering, belukar, dan sebagainya.

Luas karhutla di areal tidak berhutan didominasi terjadi di areal yang bervegetasi (± 93,1 persen), dengan savanna atau padang rumput memiliki luasan tertinggi 74 ribu ha (± 28 persen). Penutupan lahan “belukar” merupakan total dari kelas penutupan lahan belukar, belukar rawa dan savanna.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: area hutanBukit TeletubbiesGunung BromokarhutlaKemenparekrafKLHKmitigasi karhutla

Editor

Next Post
Bentrokan di Pulau Rempang, Batam, Provinsi Kepulauan Riau pada Kamis, 7 September 2023, terkait proyek pembangunan kawasan Rempang Eco-City. Foto walhiriau.or.id.

Solidaritas Nasional untuk Rempang: Peristiwa Rempang 7 September Pelanggaran HAM

Discussion about this post

TERKINI

  • Laskar Talijiwo dari Pracimantoro, Wonogiri sampaikan penolakan tambang dan pabrik semen kepada Bupati Wonogiri, 25 Juni 2026. Foto Dok. Laskar Talijiwo.Temui Bupati Wonogiri, Laskar Talijiwo Sampaikan Tolak Tambang Gamping dan Pabrik Semen
    In News
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Ilustrasi sampah organik dari sisa buah-buahan. Foto Artis Digital/pixabay.com.Temuan Ombudsman DIY, Aktivitas TPS 3R Sokowaten Tak Berizin dan Sebabkan Pencemaran
    In News
    Senin, 22 Juni 2026
  • Acara ISWBC 2026 bertema Beyond Species: Rethinking Conservation in an Era of Uncertainty, 11 Juni 2026. Foto Leoni/UGM.Pejabat Kehutanan Bicara Peran Masyarakat Adat Menjaga Biodiversitas Saat Krisis Iklim
    In News
    Sabtu, 20 Juni 2026
  • Para pejabat menunjukkan peta calon lokasi bandar antariksa di Distrik Biak Utara yang mengancam wilayah adat Warbon. Foto Istimewa.LBH Papua Nilai Rencana Pembangunan Bandar Antariksa di Wilayah Adat Warbon Cacat Hukum
    In Lingkungan
    Sabtu, 20 Juni 2026
  • Ilustrasi tawon yang berkoloni. Foto jcbeni.Pixabay.com.Tawon yang Berkoloni Mengenali Wajah Manusia yang Mengganggunya
    In IPTEK
    Jumat, 19 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media