Kamis, 24 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Tren Lato-lato dari Para Gaucho hingga Generasi Fomo

Permainan lato-lato adalah permainan lawas yang tren kembali. Tak hanya sekedar permainan, tetapi juga dikompetisikan.

Senin, 9 Januari 2023
A A
Alat permainan lato-lato. Foto ilustrasi.

Alat permainan lato-lato. Foto ilustrasi.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Tek tek tek. Bebunyian yang timbul dari dua bandul yang saling beradu itu tengah menjadi tren. Namanya lato-lato.

Permainan lato-lato yang tengah tren ternyata bukanlah permainan baru. Itu adalah permainan lawas dari Argentina. Bentuk mainan lato-lato berupa dua bandul berbentuk bulat yang diikat tali tersebut ternyata juga merupakan alat berburu primitif para gaucho (pemburu) dari Amerika Selatan untuk menangkap hewan. Caranya dengan melempar alat itu ke arah buruan hingga terjerat bagian kaki atau sayap. Di sana, alat berburu itu berasal dari kata bolas atau boleadora.

Sebagai mainan, lato-lato berupa dua bandul pendulum berbahan plastik polimer. Kedua bandul disambungkan seutas tali atau benang nilon. Bagian tengah tali terdapat sebuah cincin untuk pegangan saat menggerakan kedua bandulan tersebut. Kelihaian dalam memainkan lato-lato tampak ketika pemain mampu mempercepat benturan kedua bandulan dalam posisi stabil.

Baca Juga: Gempa Dangkal Pacitan Dirasakan hingga Yogyakarta dan Jawa Tengah

Lantas, mengapa permainan orang dewasa itu bisa terlahir kembali menjadi permainan anak-anak?

Menurut Dosen program studi Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (Unair) Ikhsan Rosyid Mujahidul Anwari, karena manusia berperan sebagai homo ludens atau mahkluk yang suka bermain yang selalu memiliki permainan tren di setiap eranya. Tren permainan anak-anak maupun dewasa akan mengikuti perkembangan ekonomi dan zaman.

Lato-lato menjadi populer karena dipengaruhi media teknologi yang membuat permainan tersebut dikenal banyak orang. Namun kebertahanan sebuah permainan sangat ditentukan dengan kemunculan permainan-permainan berikutnya.

Baca Juga: Peta Bahaya Sesar Cugenang Terbaru, Empat Kecamatan Masuk Zona Terlarang

“Masing-masing zaman atau era selalu punya zeitgest atau jiwa zaman. Kebetulan, sekarang permainan lato-lato. Siapa yang menyebabkan permainan tersebut populer, salah satunya produsen media permainan anak. Saya kira ini akan berulang pada waktu mendatang,” jelas Ikhsan.

Tak sekedar permainan, lato-lato juga dilombakan. Menurut Ikhsan, kondisi itu tak lepas dari nilai-nilai yang terkandung dalam permainan anak-anak, yakni nilai pleasure, interaktif, dan kompetitif. Apalagi lato-lato menjadi tren setelah pandemi, sehingga anak-anak bisa berinteraksi lewat permainan itu. Di samping itu, nilai kompetitif dalam permainan tersebut juga berkaitan dengan kemampuan atau skill mereka sehingga muncul perlombaan.

Lato-lato Bagi Generasi Z

Sementara Ketua Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran, Hery Wibowo mengungkap fakta sosiologis dari permainan lato-lato. Kelahiran kembali permainan lato-lato yang pernah populer pada 1990-an menjadi momentum terbaik bagi orang tua untuk ‘sedikit’ melepaskan anak dari ketergantungan bermain gawai.

Baca Juga: PSHK UII Nilai Perppu Cipta Kerja Intrik Pemerintah Gugurkan Putusan MK, DPR akan Bahas Pekan Depan

“Juga momentum terbaik untuk membangun ‘growth mindset’ dengan penekanan, bahwa proses itu penting, tidak ada sukses instan, dan berlatih akan membawa hasil,” kata Hery.

Ada delapan fakta sosiologis terkait permainan lato-lato. Pertama, lato-lato mampu membangun interaksi sosial. Berbeda dengan permainan berbasis perangkat seperti HP, tablet, atau gawai lainnya, lato-lato lebih menyenangkan untuk dimainkan bersama-sama.

“Inilah ajang membangun interaksi sosial dari generasi Z yang sering disebut generasi ‘alien’ karena suka menyendiri dan rebahan. Tanpa terasa kohesi sosial antar anak-anak mulai terbangun,” kata Hery.

Baca Juga: Alfian Nur Rosyid, Satgas Covid-19 Meluruskan Isu Konspirasi hingga OTG

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Amerika Selatananak-anakGenerasi FomoGenerasi Zlato-latoorang dewasapermainan lato-latoUnairUnpad

Editor

Next Post
Gempa Maluku magnitudo 7,9 yang terjadi di Laut Banda pada Selasa, 10 Januari 2023, pukul 00.47 WIB, oleh BMKG sempat mengaktifkan peringatan dini tsunami. Foto BMKG, pusat gempa Maluku.

Gempa Maluku M7,9 Sistem Peringatan Dini Tsunami Aktif Selama Dua Jam Lebih

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media