Kamis, 8 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Walhi Tolak Proyek PLTGU Batang, Gunakan Gas Fosil Penyebab Emisi Gas Rumah Kaca

Ketergantungan Indonesia terhadap gas fosil dapat menjadi jebakan baru dalam transisi energi, karena metana yang timbul dari sepanjang rantai pasok, ekstraksi hingga pembakaran menunjukkan gas adalah sumber energi tidak ramah iklim.

Kamis, 23 Oktober 2025
A A
Ilustrasi Walhi tolak PLTGU Batang. Foto Dok. Walhi.

Ilustrasi Walhi tolak PLTGU Batang. Foto Dok. Walhi.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyatakan menolak tegas rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Batang yang berada di bawah inisiatif Asia Zero Emission Community (AZEC). Penolakan ini bukan sekadar reaksi terhadap satu proyek, melainkan bentuk perlawanan terhadap pola pembangunan yang terus mengabaikan hak-hak masyarakat, merusak ekosistem, dan melanggengkan ketergantungan pada energi fosil atas nama transisi.

Pada Agustus 2024, melalui Pertemuan Tingkat Menteri AZEC yang ke-2 (2nd AZEC Ministrial Meeting) Electric Power Development Co.,Ltd. (J-POWER), PT Adaro Power, dan ITOCHU Corporation mengumumkan akan melakukan studi kelayakan untuk mengembangkan Combined Cycle Gas Turbine (CCGT) atau Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) di Jawa Tengah.

Meskipun tidak secara langsung menyebut di mana lokasi persis proyek akan dilangsungkan, profil proyek menunjukkan PLTGU ini akan dibangun bersebelahan dengan PLTU Batang, di Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Baca juga: Perdagangan Biawak Diperbolehkan, Tapi Jangan Merusak Ekosistem

PLTGU Batang

PLTGU Batang bukanlah proyek yang berdiri sendiri. Perusahaan yang tengah melakukan feasibility study untuk PLTGU Batang, yakni J-POWER, PT Adaro Power, dan ITOCHU Corporation adalah entitas sama yang membangun PLTU Batang melalui PT Bhimasena Power Indonesia. Perencanaan dan operasi oleh perusahaan ini di PLTU Batang sejak 2011, tidak memberi ruang penuh adanya partisipasi bermakna dari masyarakat.

“Bahkan gagal melakukan mitigasi menyeluruh terhadap dampak sosial dan lingkungan dan telah memberikan dampak serius kerusakan terhadap kawasan yang penting secara ekologis dan ekonomi,” kata Direktur Eksekutif Walhi, Boy Jerry Even Sembiring.

Pembangunan PLTU Batang mengorbankan 226 hektare lahan, mayoritas adalah sawah dan perkebunan yang menjadi tumpuan hidup petani. Nelayan Roban Timur yang dulu hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk melaut dan membawa pulang hasil tangkapan yang cukup untuk menghidupi keluarga, kini harus menempuh perjalanan 3–4 jam dengan konsumsi bahan bakar yang jauh lebih tinggi, sementara hasil tangkapan terus menurun.

Baca juga: Satwa Liar Masuk Permukiman, Sinyal Keseimbangan Alam Hutan yang Terganggu

Karang Preketek yang dahulu menjadi rumah bagi berbagai jenis ikan dan biota laut, telah berubah menjadi jetty industri. Lumpur hasil pengerukan untuk pembangunan jetty dibuang ke perairan sekitar, menutup habitat ikan dan merusak ekosistem. Lumpur buangan ini sering tersangkut pada jaring nelayan, menyebabkan jaring rusak atau tak bisa diangkat, menambah beban kerugian yang mereka alami.

Abrasi pesisir juga semakin parah akibat perubahan arus laut yang dipicu pembangunan jetty PLTU yang mengarahkan arus ke pesisir. Vegetasi pantai seperti Ketapang (Terminalia catappa) dan Cemara Laut (Casuarina equisetifolia) menghilang karena abrasi yang mengikis daratan dan penebangan pohon di lokasi pembangunan PLTU.

Air laut pun tercemar akibat tumpahan batu bara dari tongkang saat bongkar muat serta dari air penyemprot batu bara yang terbuang ke laut. Ditambah lagi polusi udara dari pembakaran batu bara telah meningkatkan risiko kesehatan masyarakat, sementara lahan pertanian dirampas tanpa proses partisipatif yang adil. Jika perusahaan yang sama yang membangun dan menjalankan proyek semacam ini kembali membangun proyek baru, maka besar kemungkinan pola pengabaian dan perusakan akan terulang.

Baca juga: DIY Siapkan Tiga TPST untuk Kelola Sampah Menjadi Energi Listrik

Kini, proyek PLTGU ini diklaim sebagai bagian dari transisi energi. Namun, pengalaman dari proyek serupa seperti Jawa-1 LNG-to-Power di Cilamaya menunjukkan PLTGU bukanlah solusi yang bersih dan adil. Alih fungsi lahan produktif, gangguan terhadap wilayah tangkap nelayan, penurunan kualitas lingkungan laut, serta risiko kecelakaan akibat pemasangan pipa gas adalah dampak nyata yang telah dirasakan oleh masyarakat.

Operasi Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) dan pembuangan air regasifikasi berpotensi menurunkan suhu air laut dan mengganggu zona tangkap ikan. Jika PLTGU menggunakan pipa darat dari ladang gas sekitar, potensi bahaya ledakan, kebakaran, dan pencemaran juga bisa terjadi. Kebocoran dan ledakan pipa gas, seperti yang terjadi di Peninsular Malaysia pada April 2025, menunjukkan bahwa risiko terhadap keselamatan warga sangat nyata dan tidak bisa diabaikan.

Narasi ‘energi transisi’ menyesatkan

Walhi menolak narasi yang dibangun inisiatif AZEC yang mempromosikan gas sebagai ‘energi transisi’.

“Narasi ini menyesatkan dan berisiko normatif, karena mengaburkan kenyataan bahwa gas adalah bagian dari energi fosil yang tetap menghasilkan emisi gas rumah kaca, bukan energi terbarukan yang sejati,” papar Boy.

Baca juga: Air Hujan antara Ancaman Mikroplastik dan Solusi Krisis Air Masa Depan

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Asia Zero Emission Communitygas fosilPLTGU BatangWalhi

Editor

Next Post
Ilustrasi kearifan lokal masyarakat adat Kasepuhan Girijaya di Sukabumi, Jawa Barat. Foto Dok. IPB University.

Belajar dari Kearifan Lokal Kasepuhan Girijaya dan Tahura Atasi Perubahan Iklim

Discussion about this post

TERKINI

  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 mengusung desakan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Agraria Kritik Penunjukan Kepala BRAN
    In News
    Jumat, 2 Oktober 2026
  • Pusat gempa dangkal 5,4 magnitudo di Pantai Timur Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada Kamis malam, 1 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Gempa Dangkal di Laut Flores Kepulauan Selayar Dirasakan IV MMI
    In News
    Kamis, 1 Oktober 2026
  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media