Selasa, 7 April 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Waspada Penularan Virus Flu Burung dari Sapi Perah dan Kucing

Kesehatan hewan peliharaan harus menjadi perhatian serius karena ada penyakit dari hewan yang bisa menular pada manusia, yang disebut zoonosis. Seperti Rabies, Scabies, Panley, Flu Burung, Leptospirosis, Brucellosis dan Anthraks.

Minggu, 26 Januari 2025
A A
Pemeriksaan kucing di Klinik Kesehatan Hewan di Wedi, Klaten, Jawa Tengah. Foto Istimewa.

Pemeriksaan kucing di Klinik Kesehatan Hewan di Wedi, Klaten, Jawa Tengah. Foto Istimewa.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Kemunculan varian baru virus Avian Influenza (AI) atau flu burung pada hewan mamalia membuat khawatir para pakar di dunia. Di Amerika misalnya, telah merebak virus AI yang menjangkit unggas dan sapi perah sejak awal 2024. Namun, baru berhasil teridentifikasi jenis virus AI tersebut pada Maret 2024.

Pakar Virologi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (Unair) Prof. Suwarno menerangkan, flu burung merupakan penyakit yang kompleks dan terus berkembang. Telah banyak ditemukan sejumlah hewan liar yang mati akibat terinfeksi virus tersebut.

“Flu burung terus berevolusi, bermutasi dan mengalami spillover, lompatan antar spesies yang berbeda. Yang semula hanya menginfeksi burung liar, sekarang dilaporkan telah menginfeksi manusia, mamalia, dan unggas domestik,” terang Suwarno.

Baca juga: Bekantan, Satwa Endemik di Kalimantan Selatan

Migrasi sekelompok burung dari satu tempat ke tempat lainnya berperan penting dalam menyebarkan virus AI subtype H5N1 dari unggas ke berbagai negara.

Kewaspadaan masyarakat

Masyarakat Indonesia tentu tidak asing dengan wabah flu burung. Sebab, wabah ini telah ditemukan di Indonesia sejak 2003 dan ditemukan kasus kematian pada manusia hingga tahun 2019.

Dengan kembali merebaknya kasus flu burung di dunia, Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan surat edaran kepada masyarakat melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Rabu, 8 Januari 2025. Surat edaran tersebut keluar untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap flu burung.

Baca juga: Sungai Tuntang Meluap, Jalur Rel KA Stasiun Gubug-Karangjati Amblas Lagi

“Kewaspadaan ini sangat perlu karena beberapa negara di Amerika, Eropa, Afrika, Asia dan Australia telah melaporkan kasus flu burung akibat varian dari virus flu burung A yang sangat patogen,” ungkap Suwarno.

Gejala pada sapi perah dan kucing

Sebagai salah satu hewan mamalia, sapi perah juga memiliki risiko terpapar flu burung. Penurunan produksi susu mulai dari 20-100 persen menjadi dampak dari penularan virus antar spesies (dari unggas ke mamalia, red). Suwarno pun menyatakan bahaya susu yang dihasilkan sapi perah yang terpapar.

“Yang berbahaya adalah susu yang dihasilkan sangat tercemar dengan keberadaan virus tersebut,” kata dia.

Baca juga: Status HGB di Perairan Sidoarjo dan SHM di Bekasi Versi Menteri ATR dan Komisi IV

Susu mentah yang tidak dipasteurisasi dapat menjadi penyebab penyebaran virus pada spesies lain, termasuk kucing, harimau, singa, anjing dan unggas domestik, serta hewan liar lainnya.

Penting bagi masyarakat, khususnya bagi para peternak untuk memperhatikan gejala flu burung bagi hewan ternak mereka. Sebab sapi perah yang terdeteksi positif menunjukkan gejala yang tidak spesifik.

Umumnya terjadi penurunan nafsu makan, keluarnya leleran lendir dari hidung, feses yang lengket atau encer, lesu, dehidrasi dan demam. Kualitas susu pada sapi perah yang terpapar pun konsistensi kental dan pekat, serta berwarna kuning mirip kolostrum.

Baca juga: Kata Pakar Kelautan dan Pakar Hukum Agraria Soal HGB di Laut

Guru Besar FKH itu juga menjelaskan kucing jauh lebih berisiko terjangkit daripada anjing. Sebab perilaku kucing yang kerap menjadikan burung sebagai target mangsanya. Jadi penting memahami gejala pada kucing yang terjangkit.

Sejauh ini gejala yang muncul pada kucing ditandai dengan penurunan nafsu makan, lesu, demam, leleran lendir pada mata, bersin, batuk, hingga sesak nafas. Selain itu juga dapat dilihat gejala syaraf yang mengalami gangguan koordinasi gerak, tremor, dan kejang disertai kebutaan.

Cegah paparan pada kucing

Berdasarkan investigasi terkini, pakan yang menjadi sumber paparan infeksi pada kucing adalah susu yang tidak dipasteurisasi (dipanaskan). Juga dapat disebabkan konsumsi daging mentah atau setengah matang yang berasal dari unggas.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: animal loveravian influenzaflu burungKlinik Kesehatan Hewanpenyakit zoonosis

Editor

Next Post
Pakar Geologi UGM, Prof. Wahyu Wilopo. Foto Dok. Academia.

Wahyu Wilopo, Mata Air Keruh Muncul di Kaki Lereng Jadi Penanda Rawan Longsor

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media