Minggu, 20 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Yonvitner: Mangrove Ibarat Ibu yang Diperlukan untuk Mengasuh Banyak Anak

Ekosistem mangrove punya peran penting karena keberadaannya mampu melindungi ekosistem lainnya di perairan.

Senin, 18 September 2023
A A
Guru Besar Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Yonvitner. Foto hacipb.or.id.

Guru Besar Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Yonvitner. Foto hacipb.or.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Sejatinya, mangrove memiliki fungsi dan manfaat jangka panjang bagi masyarakat pesisir, baik secara ekologi maupun ekonomi. Perlu ada kegiatan yang dapat memberi informasi menyeluruh kepada masyarakat dan memberikan pandangan yang lengkap terkait ekosistem mangrove.

“Dalam pengelolaan ekosistem mangrove berbasis masyarakat, masyarakat Indonesia masih menyukai ada reward pada sebuah kegiatan pengelolaan mangrove. Ini penting menjadi indikator dalam rehabilitasi mangrove dari sisi masyarakat,” imbuh Yonvitner.

Baca Juga: Solidaritas Nasional untuk Rempang: Peristiwa Rempang 7 September Pelanggaran HAM

Mangrove memegang peranan penting dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/Sustainable Development Goals (SDG) pilar ke-14, yang berfokus pada tata kelola laut dan pantai di Indonesia secara berkelanjutan. Mangrove tidak hanya memiliki nilai yang sangat besar bagi masyarakat lokal, tetapi juga pada aspek memulihkan hutan bakau yang akan mendukung pencapaian banyak SDG lainnya. Termasuk pengentasan kemiskinan dan kelaparan (SDG 1 dan SDG 2), memastikan mata pencaharian dan pertumbuhan ekonomi (SDG 8), mengambil tindakan melawan dampak perubahan iklim (SDG 13) dan menghentikan hilangnya keanekaragaman hayati (SDG 15).

“Jadi, mangrove mana yang akan kita pulihkan dan berapa besar serta berapa lama harus dipulihkan?” kata Guru Besar Perikanan dan Ilmu Kelautan itu.

Dalam menerbitkan wilayah landscape mangrove perlu dikomunikasikan bersama stakeholders baik pemerintah, swasta, masyarakat dan akademisi. Semua pihak dapat berkontribusi dalam pengelolaan dan atau rehabilitasi mangrove.

Kesatuan landscape mangrove yang menjadi objek pengelolaan menjadi sorotan perlu segera disusun regulasi dalam pengelolaan mangrove nasional. Ia berharap akan terwujud berkelanjutan untuk kedaulatan masyarakat pesisir dan kebermanfaatan untuk pengelolaan mangrove. [WLC02]

Sumber: IPB University

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Ekosistem mangroveGuru Besar Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University Yonvitnerkeanekaragaman hayatiRehabilitasi mangrove

Editor

Next Post
Bentrokan di Pulau Rempang, Batam, Provinsi Kepulauan Riau pada Kamis, 7 September 2023, terkait proyek pembangunan kawasan Rempang Eco-City. Foto walhiriau.or.id.

PSN Pulau Rempang, Ombudsman Sebut Ada Potensi Maladministrasi

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media