Rabu, 23 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Anda Takut Gemuk? Biasakanlah Sarapan Pagi

Mengabaikan sarapan pagi ternyata memberikan efek buruk bagi kesehatan. Selain mengakibatkan obesitas, juga memicu beragam penyakit dalam jangka panjang.

Senin, 28 Februari 2022
A A
Ilustrasi menu sarapan pagi. Foto JillWellington/pixabay.com.

Ilustrasi menu sarapan pagi. Foto JillWellington/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

“Riset ini sudah berlangsung selama 16 tahun. Risiko tersebut tidak main-main,” tutur Mirza.

Apabila seseorang memiliki jantung koroner, lanjutnya, lebih berisiko terhadap serangan jantung.

Baca Juga: Masyarakat Diminta Waspada, Ada Potensi Likuefaksi Usai Gempa Pasaman

Kedua, mengakibatkan obesitas sehingga memicu munculnya penyakit-penyakit lainnya. Lantaran tidak sarapan menjadikan tingkat lapar tinggi sehingga akan makan dengan kalap dalam porsi yang tidak terkontrol pada siang atau malam harinya. Kecenderungan makanan yang dipilih adalah makanan cepat konsumsi yang tinggi lemak yang akan memicu diabetes, darah tinggi, serta serangan jantung.

Ketiga, risiko terkena kanker. Sebab keseimbangan metabolisme dalam tubuh terganggu. Akibatnya, tubuh berlebih atau kekurangan zat penting untuk kebutuhan sel tubuh sehingga meningkatkan risiko terkena kanker.

Keempat, melewatkan sarapan bisa menurunkan fungsi otak. Penurunan fungsi kognitif yang biasanya terjadi salah satunya demensia.

Jadi, lanjut Mirza, sarapan harus dipertahankan sebagai sebuah kebiasaan karena dampaknya akan terasa dalam jangka panjang. Akibatnya, rentan terhadap masalah kesehatan yang berhubungan dengan penyakit tidak menular yang menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia.

Jangan melebihi pukul 9 pagi

Penentuan jam waktu makan telah dikaji tidak hanya berdasarkan kebiasaan saja. Namun, terdapat kajian ilmiah yang dilakukan berdasarkan jumlah energi yang digunakan (energy expenditure) selama 24 jam seseorang melakukan kegiatan.

Baca Juga: Masa Endemi Tetap Prokes, Kecuali Ada Vaksin 100 Persen Kebal Covid-19

Energy expenditure akan meningkat kebutuhannya seiring berjalannya waktu. Saat siang hingga sore biasanya meningkat dan akan menurun perlahan saat malam hari. Puncak kebutuhan energi berbeda-beda. Hal tersebut menjadi alasan mengapa waktu sarapan, makan siang, dan makan malam beda berdasar kebutuhan energi tubuh saat beraktivitas .

“Jam 6-9 waktu bagus untuk sarapan pagi dan idealnya antara jam 7-8. Namun bisa disesuaikan dengan aktivitas. Jangan sampai lewat jam 9 karena sudah masuk persiapan pemenuhan kebutuhan makan siang,” terang Mirza. [WLC02]

Sumber: ugm.ac.id, 24 Februari 2022.

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: gemukmenjaga berat badanpenyakit jantung koronersarapan pagisumber energi

Editor

Next Post
Ilustrasi hujan es. Foto Hans/pixabay.com.

Hujan Es, Dampak Perubahan Iklim dan Membawa Polutan

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media