Minggu, 27 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Atasi Sampah Plastik, The Bananabees ITB Ciptakan Pembalut dari Pelepah Pisang

Sekitar 95 persen perempuan di Indonesia menggunakan pembalut saat menstruasi yang menyumbang timbunan sampah hingga 26 ton setiap harinya.

Minggu, 6 April 2025
A A
Bagan proses pembuatan pembalut daripelepah pisang. Foto Dok. ITB.

Bagan proses pembuatan pembalut daripelepah pisang. Foto Dok. ITB.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Tim The Bananabees dari Institut Teknologi Bandung (ITB) memilih subtema Utilization of Agriculture Waste and Material dalam kompetisi Agricultural Food Competition (AFC) Season 16 yang diselenggarakan Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman pada 1 Januari hingga 23 Februari 2025 lalu.

Tim ini berfokus pada pengelolaan limbah secara berkelanjutan. Mereka mengusulkan Mennapads, sebuah inovasi berupa pembalut biodegradable yang diproduksi dari sisa pelepah pisang.

Untuk memastikan produk yang dihasilkan sepenuhnya ramah lingkungan, Mennapads dirancang dengan lapisan awal dan akhir berbahan bioplastik sehingga 100 persen dapat terurai secara alami.

Baca juga: Kukuk Seloputo, Hantu di Cagar Alam Manggis Gadungan

Tidak hanya itu, kemasannya juga menggunakan bioplastik. Hal ini menjadikan Mennapads sebagai solusi yang lebih berkelanjutan bagi kesehatan wanita dan juga kelestarian lingkungan. Produk ini dirancang untuk memberikan solusi terhadap dua permasalahan utama.

Salah satu tujuan utama Mennapads adalah mengurangi limbah plastik dari pembalut konvensional. Sebab sekitar 95 persen perempuan di Indonesia menggunakan pembalut saat menstruasi yang menyumbang timbunan sampah hingga 26 ton setiap harinya.

Dengan hadirnya Mennapads, penggunaan pembalut sekali pakai berbahan plastik dapat diminimalkan sehingga membantu mengurangi pencemaran lingkungan.

Baca juga: Potensi Lumut Kerak untuk Bumbu Masakan hingga Antbiotik

Kedua, pemanfaatan limbah pertanian. Pelepah pisang diolah menjadi lapisan penyerap alami yang mampu menggantikan bahan sintetis dalam pembalut.

Dalam sistem produksi pisang, satu pohon hanya menghasilkan satu tandan pisang sebelum akhirnya ditebang. Akibatnya, limbah pelepah pisang terus meningkat dengan perkiraan produksi mencapai 640.000 batang per tahun. Limbah ini umumnya tidak dimanfaatkan dan hanya berakhir sebagai sampah organik.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: ITBlimbah pembalutpelepah pisangpembalut MennapadsThe Bananabees

Editor

Next Post
Burung julang emas. Foto jagatsatwanusantara.id.

Bunga Bangkai dan Julang Emas, Identitas Flora Fauna TWA Sibolangit

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media