Jumat, 13 Februari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Bencana Hidrometeorologi Ancam Jawa Tengah Hingga Februari 2025

Rabu, 29 Januari 2025
A A
Visualisasi cuaca dari citra satelit Himawari, 29 Januari 2025. Foto Dok. BMKG.

Visualisasi cuaca dari citra satelit Himawari, 29 Januari 2025. Foto Dok. BMKG.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyampaikan peringatan dini terkait kondisi cuaca ekstrem yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi di Jawa Tengah. Mengingat sebagian besar wilayah Jawa Tengah akan mengalami puncak musim hujan hingga Februari 2025. Puncak musim hujan tidak serempak, tetapi terjadi bertahap mulai November, Desember, Januari, hingga Februari.

“Ini membuat potensi bencana, seperti yang terjadi di Pekalongan masih bisa terjadi. Jadi langkah antisipasi terus kami tingkatkan,” ujar Dwikorita dalam Rapat Koordinasi Antisipasi Bencana Hidrometeorologi yang digelar bersama Penjabat Gubernur Jawa Tengah, Nana Sudjana di Semarang, Senin, 27 Januari 2025.

Dwikorita menjelaskan intensitas curah hujan di Jawa Tengah dipengaruhi kombinasi aktif beberapa fenomena atmosfer global, seperti La Nina lemah, Monsun Asia, Madden-Julian Oscillation (MJO), serta gelombang ekuatorial Kelvin dan Rossby.

Baca juga: Aktivitas Vulkanik Menurun, Status Gunung Ibu Jadi Siaga

Kondisi ini diperkuat fenomena astronomis, seperti fase bulan baru yang menciptakan potensi peningkatan curah hujan, angin kencang, hingga gelombang tinggi di wilayah pesisir. Selain itu, kelembapan udara yang sangat basah serta aktivitas konvektif lokal turut memicu pembentukan awan hujan yang menjulang tinggi.

Semua faktor ini menjadi pemicu utama peningkatan risiko bencana seperti banjir, tanah longsor, banjir rob, dan angin kencang di sejumlah wilayah Jawa Tengah. Kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah menghadapi puncak musim hujan penting segera dilakukan.

Pemalang, Pekalongan, Batang, Jepara dan Boyolali

Menurut data BMKG, seluruh wilayah Jawa Tengah telah memasuki musim hujan sejak Desember 2024 dengan puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Januari hingga Februari 2025. Prediksi curah hujan kategori menengah hingga sangat tinggi (>500 mm) di sebagian besar wilayah Jawa Tengah.

Baca juga: Gempa Darat 6,1 Magnitudo di Parigi Moutong Sulawesi Tengah

Dwikorita menekankan curah hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat akan terjadi di berbagai wilayah, terutama di kawasan rawan bencana seperti Pemalang, Pekalongan, Batang, Jepara dan Boyolali.

Di wilayah ini, ancaman tanah longsor dan banjir bandang menjadi perhatian utama. Kabupaten Boyolali misalnya, berada dalam kondisi kritis karena keberadaan jalur sungai di lereng Gunung Merbabu yang sangat rentan terhadap bencana hidrometeorologi.

Sebelumnya, Dwikorita bersama tim BMKG telah mengunjungi wilayah ini untuk meninjau langsung kondisi di lapangan dan memberikan arahan langkah mitigasi bencana, yakni di lokasi rawan longsor yang berada di Desa Jrakah, Kecamatan Selo.

Baca juga: Banjir dan Tanah Longsor di Mamuju, 4 Tewas dan 6 Luka-luka

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: banjir robBencana HidrometeorologiDaerah Rawan BencanaJawa TengahKepala BMKG Dwikorita KarnawatiPuncak musim hujan

Editor

Next Post
Budi Sulistijo, memmeragakan cara pengukuran instrumen untuk panas bumi di manifestasi geotermal di wilayah Gunung Kamojang, 18 Desember 2024 Foto Anugrah Tri Cahyadi/ITB.

Ekskursi untuk Melihat Potensi dan Manifestasi Panas Bumi di Gunung Kamojang

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi ikan mati massal. Foto akbarnemati/pixabay.com.Ikan Dewa Mati Massal di Kuningan, Apa Penyebabnya?
    In Rehat
    Kamis, 12 Februari 2026
  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 serukan pelaksanaan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.KPA Kritik Peran Bank Tanah, Menghidupkan Lagi Kepemilikan Tanah Negara Masa Kolonial
    In Lingkungan
    Rabu, 11 Februari 2026
  • MMA dan PPLH LRI sepakat menguatkan peran adat dalam mengelola hutan di Aceh. Foto Dok. IPB University.Kuatkan Kembali Panglima Uteun untuk Jaga Kelestarian Hutan Aceh
    In News
    Rabu, 11 Februari 2026
  • Lokasi pertambangan dekat dengan sebuah danau (L) dan Teluk Weda (R) di Indonesia Timur pada 2023. Foto Climate Rights International.Jatam Tegaskan, Empat Perusahaan Tambang di Maluku Utara Harus Ditindak Tegas, Tak Sekadar Denda
    In Lingkungan
    Selasa, 10 Februari 2026
  • Ilustrasi sistem saraf pusat manusia yang meliputi otak dan sumsusm tulang belakang. Foto VSRao/pixabay.com.Virus Nipah Menyerang Sistem Saraf Pusat yang Percepat Perburukan Klinis
    In Rehat
    Selasa, 10 Februari 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media