Rabu, 8 Juli 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Karangsambung, Laboratorium Alam yang Rekam Sejarah Geologi Pulau Jawa

Kawasan Geodiversitas Karangsambung dikenal sebagai laboratorium alam geologi karena memiliki keragaman formasi batuan purba yang menjadikannya sumber pembelajaran penting bagi studi geografi fisik.

Sabtu, 3 Mei 2025
A A
Kawasan Konservasi Ilmiah Karangsambung di Kebumen, Jawa Tengah. Foto Dok. BRIN.

Kawasan Konservasi Ilmiah Karangsambung di Kebumen, Jawa Tengah. Foto Dok. BRIN.

Share on FacebookShare on Twitter

Baca juga: Akademisi dan LBH se-Jawa Ajukan Permohonan Informasi Publik Soal Pengelolaan PLTU ke KLH

Salah satu situs yang banyak dibicarakan di kawasan Geopark Kebumen adalah Karangbolong dengan Sagara View. Karangbolong memiliki sisi geologi yang menarik, karena Karangbolong merupakan tinggian (horst). Sedangkan ke arah timur hingga Yogyakarta merupakan rendahan (graben).

Morfologi ini terbentuk akibat patahan geser Kebumen-Muria di sisi timur serta patahan Cilacap-Pemanukan di sisi Barat. Situs Gunung Api Purba Nglanggeran seumur dengan batuan vulkanik di Tinggian Karangbolong.

Keragaman geologi Geopark Kebumen merupakan gabungan dari Geopark Global UNESCO Ciletuh-Pelabuhanratu di Sukabumi serta Geopark Gunung Sewu di Gunung Kidul hingga Pacitan.

Baca juga: Bencana Karhutla 244 Hari, Apel Kesiapsiagaan Karhutla 2025 Digelar

Dia menyebut, beberapa budaya yang ada di Geopark Kebumen memiliki banyak variasi dari Era Megalitikum, Hindu-Buddha, Islam, serta kolonial yang mempunyai hubung kait dengan keragaman geologinya.

“Sedangkan keragam budayanya meliputi kawasan Mangrove Ayah, Hutan Pager Jawa, kelapa genjah entok, sapi PO, dan beberapa keragaman biologi lainnya,” papar dia.

Geopark Kebumen memiliki paket lengkap dari sisi geologi, keragaman budaya, dan biologi. Untuk itu, Chusni dan tim pernah melakukan kajian yang menghasilkan branding geopark berbasis budaya dengan akronim LAWET.

Baca juga: Bukan Lagi PSN, Pemerintah Seharusnya Hentikan Proyek Rempang Eco City

LAWET yakni singkatan dari Local Arts for Wonderfully Enhancing Tourism. Kajian ini berisikan keragaman seni budaya lokal yang berperan strategis dalam peningkatan pariwisata berbasis budaya pada Kawasan Geopark Karangsambung sebagai Lantai Samudera Purba. Langkah selanjutnya adalah menentukan pengemasan dari Geopark Kebumen untuk mendunia.

Laboratorium alam

Keanekaragaman bentang alam dan bentang budaya di Kawasan Konservasi Ilmiah Karangsambung dimanfaatkan menjadi sarana pembelajaran lapangan bagi mahasiswa geografi. Wilayah ini menjadi lokasi Kuliah Kerja Lapangan (KKL) I bagi mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) untuk mengamati langsung fenomena geosfer dan mengasah keterampilan geografi di lapangan.

Kawasan Geodiversitas Karangsambung yang dikelola BRIN dikenal sebagai laboratorium alam geologi. Kawasan ini memiliki keragaman formasi batuan purba yang menjadikannya sumber pembelajaran penting bagi studi geografi fisik.

Baca juga: Pelaku Perdagangan Cula Badak Jawa di Ujung Kulon Batal Bebas

Di Karangsambung terdapat batuan hasil proses pergerakan lempeng, seperti batu beku yang terdiri dari basal, granit, gabro, andesit, diabas, dasit. Ada juga batuan sedimen, seperti rijang, konglomerat, batu pasir, gamping merah, kalkarenit. Tak ketinggalan batuan metamorf, seperti sekis mika, serpentinit, dan filit.

”Kelengkapan jenis batuan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi mahasiswa geografi. Observasi langsung di lapangan memberikan pemahaman yang lebih mendalam terhadap aspek geologi dan geografi,” jelas Peneliti Pertama Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah BRIN, Isyqi, Selasa, 22 April 2025.

Salah satu lokasi pengamatan yang dikunjungi terletak di Kali Muncar, Desa Seboro, Kecamatan Sadang. Di lokasi tersebut, mahasiswa dikenalkan pada tiga jenis batuan sekaligus, yaitu batuan beku Lava Bantal, batuan sedimen rijang-batugamping merah, dan batuan metamorf eklogit.  Ketiga batuan tersebut, tercampur dalam masa dasar batu lempung hitam karena peristiwa tumbukan lempeng samudera dan lempeng benua jutaan tahun yang lalu.

Baca juga: HKB 2025, Uji Publik Rancangan Peraturan BNPB di Mataram hingga Tanam Aren di Serdang Bedagai

Selain itu, mahasiswa juga diajak untuk melihat bukti vulkanisme bawah laut yang terjadi pada masa oligocene, yaitu dengan mengamati singkapan batuan diabas Gunung Parang yang terletak di Desa Karangsambung.

“Struktur kekar kolom yang terdapat pada batuan tersebut menyimpan sejarah pembentukan batuan Diabas tersebut,” imbuh dia.

Dalam kesempatan yang sama, Dosen Geografi Universitas Negeri Malang, Satti Wagistina menjelaskan, pengenalan bentang alam dan bentang budaya menekankan keterkaitan antara komponen geografi fisik dengan manusia di dalamnya.

Baca juga: Rafflesia zollingeriana, Tumbuhan Langka yang Mekar untuk Diselamatkan

“Melalui dasar interpretasi dan analisis peta dan observasi lapangan, mahasiswa diharapkan dapat mengenali karakteristik dan komponen bentang lahan fisik,” terang dia.

Fenomena geosfer yang beragam, seperti proses geomorfologi, geologi, hidrologi, serta aspek sosial ekonomi dan budaya masyarakat tidak dapat dipahami sepenuhnya melalui teori saja. Namun perlu melakukan pengamatan secara langsung.

“Mahasiswa diharapkan mampu mengaplikasikan teori yang telah dipelajari dalam perkuliahan ke dalam situasi nyata di lapangan,” tegas Satti.

Baca juga: Atasi Masalah Sampah, Kampus Libatkan Mahasiswa dan Pemerintah Ajak Tentara

Hal senada disampaikan Dosen Geografi Universitas Negeri Malang, Ferryati Masitoh yang berharap mahasiswa dapat membuat laporan, esai, video. Juga meningkatkan softskill seperti kerja sama tim, kepemimpinan, komunikasi, serta kemampuan adaptasi dengan kondisi lingkungan yang beragam.

Sementara Ketua Pelaksana  Kuliah Kerja Lapangan (KKL) I, Dandy Hayat menyampaikan bahwa kegiatan KKL wajib diikuti mahasiswa Program Studi S1 Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Kegiatan yang bertema Integrasi Geografi Fisik dan Sosial Melalui Eksplorasi Bentang Alam dan Budaya dalam KKL 1 Geografi 2024 sudah dirancang sebagai mata kuliah wajib untuk diikuti dengan bobot sebesar dua sks. [WLC02]

Sumber: BRIN

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: BRINgeopark KarangsambungKabupaten KebumenKarangsambunglaboratorium alamThe Mother of Earth

Editor

Next Post
Guru Besar Bidang Ilmu Pencemaran Lingkungan dan Kesehatan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair, Prof. Lilis Sulistyorini. Foto Dok. PKIP Unair.

Lilis Sulistyorini, Risiko Kesehatan Akibat Mikroplastik adalah Nyata dan Terukur

Discussion about this post

TERKINI

  • Penambangan nikel. Foto djkn.kemenkeu.go.id.Walhi: Kemiskinan Indonesia Naik Akibat Ekonomi Dibangun di Atas Kerusakan Lingkungan
    In News
    Minggu, 28 Juni 2026
  • Ilustrasi forest healing. Foto Pexels/Pixabay.com.Healing Forest Tak Bisa Sembarangan, Apa Syaratnya?
    In Traveling
    Minggu, 28 Juni 2026
  • Penggusuran PT BSMJ di wilayah adat Muara Tae, Kabupaten Kutai Barat untuk sawit. Foto Dok. Kaoem Telapak.Kaoem Telapak Desak Ekspansi Sawit di Wilayah Adat Muara Tae Dihentikan
    In News
    Sabtu, 27 Juni 2026
  • Rob mengepung rumah nelayan di pesisir utara Jawa Tengah. Foto Iven Sumardiyantoro/peneliti independen.Pembangunan Abaikan Krisis Iklim Mengancam Hak Generasi Anak-anak Pesisir
    In News
    Sabtu, 27 Juni 2026
  • Bentang alam Masyarakat Adat Kasepuhan Pasir Eurih di Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten. Komunitas ini mempertahankan sistem zonasi tradisional sebagai dasar pengelolaan wilayah adat yang diwariskan. Foto Dok. WGII.Paradoks Penetapan Taman Nasional, Pengetahuan Hidup Masyarakat Adat Terancam Punah
    In Lingkungan
    Jumat, 26 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media