Wanaloka.com – Salah satu alasan Tim Tangguh UGM menggunakan kayu hanyutan bencana banjir bandang untuk pembangunan hunian sementara bagi penyintas di Aceh agar kayu-kayu tersebut tidak terbuang sia-sia. Melainkan bisa dimanfaatkan secara optimal mengingat kayu hanyutan tersebut akan mengalami penurunan kualitas apabila terlalu lama dibiarkan.
“Semakin cepat kayu diolah, semakin baik kualitas material yang dapat digunakan untuk hunian,” kata Ketua Tim Tangguh UGM, Ashar Saputra, Kamis, 15 Januari 2026.
Bahkan kayu-kayu yang ditemukan dalam kondisi rusak pun tetap dapat dimanfaatkan dengan pemilahan bagian yang masih layak. Peran oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Kehutanan menjadi kunci dalam penyediaan material utama berupa kayu hanyutan.
Dalam pelaksanaan program ini, UGM menggandeng Rumah Zakat yang terlibat langsung dalam penyediaan dan pelatihan tenaga tukang lokal. Sementara UGM berkontribusi melalui teknologi rumah yang aman, sehat, cepat dibangun, dan mudah dibuat.
Baca juga: Prevalensi Penderita Kusta di DIY Terendah, Tapi Tiap Bulan Ada Pasien Baru
Dari sisi desain, huntara berbasis kayu ini dirancang dengan ukuran 6 x 6 meter. Desain tersebut mengakomodasi dua kamar tidur yang bersifat privat, satu ruang multifungsi untuk dapur atau ruang keluarga, serta satu teras.
Kebutuhan material kayu diperkirakan sekitar 4 meter kubik untuk rumah tanpa lantai panggung dan sekitar 5 meter kubik untuk rumah dengan lantai panggung. Material yang perlu didatangkan dari luar lokasi meliputi atap galvalum serta paku, baut, dan mur.
“Sebisa mungkin material kayu diambil dari lokasi terdekat, sementara bahan pendukung lainnya disuplai dari luar,” ungkap Ashar.
Skema kerja dirancang agar warga terdampak dapat terlibat aktif dalam proses pembangunan bersama pemilik rumah dan warga sekitar. Melalui pendekatan ini, roda ekonomi warga mulai bergerak kembali melalui skema uang lelah bagi para tukang.
Baca juga: Legislator Kritik Seremonial Bantuan Menteri di Aceh, Puluhan Kampung Masih Terisolasi
Satu rumah idealnya dikerjakan enam orang yang terdiri dari dua tukang utama dan empat warga sebagai pembantu tukang. Dalam skenario awal, pembangunan ditargetkan selesai dalam waktu empat hari. Namun pelaksanaannya masih membutuhkan waktu berkisar sekitar enam hari karena proses adaptasi di lapangan.
“Seiring pelatihan dan pengalaman, kami optimistis target empat hari per unit dapat tercapai,” tutur dia.
Untuk mempercepat pembangunan, skema kerja paralel diterapkan melalui pembentukan 15 kelompok tukang. Dengan skema ini, 15 rumah dapat dibangun secara bersamaan dalam satu waktu. Warga lainnya berperan dalam pemotongan, pengolahan, dan distribusi kayu sesuai kebutuhan masing-masing unit.
“Tenaga kerja dan alur suplai sudah disiapkan agar proses pembangunan dapat berjalan lebih lancar,” jelas dia.
Antusiasme warga terdampak menjadi faktor penting dalam keberhasilan program ini. Setelah hampir 50 hari tinggal di tenda yang kurang nyaman dan kurang higienis, warga menyambut baik peluang untuk memiliki hunian yang lebih layak.
Baca juga: Jangan Sepelekan Kemasan Kaleng Makanan yang Penyok, Gembung dan Berkarat
Pada pembangunan rumah tahap awal, banyak warga datang melihat, bertanya, dan berharap segera mendapatkan rumah serupa. Penentuan prioritas penerima hunian dilakukan melalui musyawarah warga setempat dengan mempertimbangkan kondisi lansia, ibu hamil, anak-anak, serta keluarga yatim dan piatu.
“Urutan pembangunan ditentukan melalui rembuk gampong agar bantuan tepat sasaran dan adil,” ucap dia.
Ke depan, penting upaya memperkuat sinergi lintas sektor dalam pemulihan pascabencana. Kebutuhan masyarakat tidak berhenti pada hunian, tetapi mencakup air bersih, sanitasi, fasilitas kesehatan, dan pendidikan.
Pemulihan infrastruktur dasar perlu berjalan seiring agar kesehatan dan kesejahteraan masyarakat tetap terjaga. UGM mendorong agar setiap pihak yang terlibat dapat berkontribusi sesuai kebutuhan lapangan.
“Hunian menjadi pintu masuk, tetapi fasilitas pendukung seperti sekolah dan layanan kesehatan juga perlu segera disiapkan,” kata dia.
Baca juga: Akumulasi Penyebab Banjir Aceh, Sumut dan Sumbar Terjadi di Hulu Aliran Sungai
Di balik angka dan desain teknis, program pembangunan huntara ini menyimpan kisah kemanusiaan yang mendalam. Salah satunya dialami keluarga Misran yang terdiri dari lima anggota keluarga. Istrinya tengah hamil besar saat banjir melanda.
Dalam kondisi darurat, mereka bertahan selama tiga hari tiga malam di atas pohon sawit hingga air surut. Kini, rumah Misran telah selesai dibangun dan sudah ditempati, sementara 18 rumah lainnya masih dalam tahap pembangunan di lokasi yang sama.
“Sekarang kami sudah bisa kembali tinggal bersama keluarga di rumah yang lebih aman,” ujar Misran.
Pembangunan huntara diperbanyak 550 unit
Pembangunan huntara bagi penyintas banjir di Aceh terus diperluas seiring kebutuhan mendesak masyarakat untuk keluar dari tenda darurat. Dari semula 100 unit huntara, kemudian dikembangkan inisiatif lanjutan dengan menyiapkan hingga 550 unit hunian sementara berbasis pemanfaatan kayu hanyutan.






Discussion about this post