Wanaloka.com – Kementerian Kehutanan terus mengintensifkan pemanfaatan kayu hanyutan pascabencana ekologis di Aceh Utara dan Sumatra Utara untuk mendukung pemulihan lingkungan dan pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak.
Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Subhan menyampaikan hingga 8 Januari 2026, tim BPHL bersama Dinas LHK Aceh telah mengukur 769 batang kayu hanyutan dengan total volume 1.260,49 meter kubik yang layak dimanfaatkan.
“Kayu hanyutan ini kami arahkan langsung untuk mendukung pembangunan hunian sementara dan kebutuhan pemulihan masyarakat,” ujar Subhan.
Pemanfaatan kayu di Aceh Utara telah digunakan Rumah Zakat untuk pembangunan 9 unit huntara, dengan rincian 8 unit masih dalam proses pembangunan dan 1 unit telah selesai. Selain itu, 54 personel Kemenhut dan Saka Wanabakti juga melakukan pembersihan fasilitas pendidikan, termasuk SDN 14 Langkahan sebanyak 5 ruangan.
Baca juga: Kondisi Darurat Bencana Belum Usai, Gubernur Aceh Perpanjang Ketiga Kali
Sementara di Sumatra Utara, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatra Utara, Novita Kusuma Wardani menjelaskan penanganan kayu hanyutan di Desa Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol dilakukan secara bertahap dan terukur.
“Pemilahan kayu hanyutan hampir rampung dan diarahkan sepenuhnya untuk bahan pembangunan hunian sementara,” kata Novita.
Pada 8 Januari 2026, pemilahan kayu di wilayah Garoga telah mencapai 100 persen di Garoga I, Garoga II, dan Garoga III, serta 80 persen pada jalur Desa Garoga-Huta Godang-Aek Ngadol. Hasil pengolahan kayu hari itu mencapai 228 keping dengan volume 3,1560 meter kubik, sehingga total akumulasi menjadi 793 keping dengan volume 12,0035 meter kubik yang diperuntukkan bagi pembangunan huntara di Desa Batu Hula, Kecamatan Batang Toru.
Selain pemanfaatan kayu, kegiatan juga mencakup penataan lingkungan dan land clearing untuk rencana huntara dan hunian tetap di areal PTPN IV Desa Aek Pining seluas rencana 15 hektare, dengan realisasi pembukaan lahan hingga saat ini sekitar 1,028 hektare.
Baca juga: Bukan Solusi Krisis Sampah, Walhi Desak Percepatan PSEL Dihentikan







Discussion about this post