Selasa, 12 Mei 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Perubahan Iklim, Cuaca Ekstrem Makin Sering Dirasakan

Senin, 10 Februari 2025
A A
Perubahan iklim, cuaca ekstrem makin sering dirasakan. Foto ilustrasi.

Perubahan iklim, cuaca ekstrem makin sering dirasakan. Foto ilustrasi.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Koordinator Data dan Informasi Stasiun Klimatologi D.I. Yogyakarta, Etik Setyaningrum mengungkapkan, dari tahun ke tahun cuaca ekstrem makin sering dirasakan. Hal ini diakibatkan oleh pemanasan global atau signal pemanasan.

“Misalnya saja di 2016, suhu bumi mencapai 1.28°C di atas suhu rata-rata massa pra-industri. Di Indonesia, anomali maksimum tercatat di Stasiun Meteorologi Sentani – Jayapura (sebesar 0.8 °C) pada tahun 2022,” kata Etik dalam diskusi tentang keadilan iklim yang digelar Yayasan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta, Minggu, 9 Februari 2025.

Etik Setyaningrum sebagai pembicara utama dalam diskusi tersebut, mengungkapkan, berdasarkan statistik yang dimilikinya, perubahan iklim menyebabkan bencana hidrometeologi yang makin sering terjadi.

Baca Juga: Suara Perempuan Petani Indonesia Menghadapi Perubahan Iklim

“Bencana hidrometeologi itu bencana yang berhubungan dengan air dan atmosfer. Kebanyakan air jadi banjir, kurang air kekeringan, atmosfer terlalu lembab bisa menyebabkan beberapa varietas tidak dapat panen dan lain sebagainya,”katanya.

Ditegaskannya, ada dua cara dalam menghadapi perubahan iklim.

“Pertama tindakan mitigasi yaitu mengatasi penyebab perubahan iklim, dan kedua adaptasi yaitu tindakan menyesuaikan diri untuk mengantisipasi pengaruh buruk perubahan iklim,” imbuhnya.

Peserta diskusi, Heron dari Jampiklim, mengungkapkan kontribusi oksigen dari hutan lebih kecil dibandingkan dari biota laut, sedangkan laut semakin tercemar.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Bencana HidrometeorologiCuaca EkstremPerubahan cuacaperubahan iklim

Editor

Next Post
Cuaca ekstrem di Bali, tim SAR mengevakuasi kendaraan roda empat yang tertimbun longsor di Provinsi Bali. Foto Dok BNPB.

Dampak Cuaca Ekstrem hingga 11 Februari 2025 Sebanyak 85 Orang Tewas

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi ,krisis air bersih. Foto Andres_maura_ph/Pixabay.com.Pemerintah Harus Antisipasi Krisis Sampah dan Air Bersih Dampak Godzilla El Niño 2026
    In Lingkungan
    Senin, 11 Mei 2026
  • Ilustrasi tikus pembawa virus. Foto Sipa/Pixabay.com.Mengenal Virus Hanta Tipe HFRS di Indonesia dan Tipe HPS di Kapal Pesiar
    In Rehat
    Senin, 11 Mei 2026
  • Tim SAR gabungan membawa kantong jenazah korban erupsi gunung api Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, 10 Mei 2026. Foto Basarnas.Pendakian Gunung Dukono Ditutup April 2026, Tiga Pendaki Tewas Mei 2026
    In Traveling
    Minggu, 10 Mei 2026
  • Suasana salah satu tempat pembuangan sampah sementara di Kota Yogyakarta. Foto Dok. Forpi Kota YogyakartaKritik Walhi Yogyakarta, PSEL Menyeret Daerah Tergantung pada Pasokan Sampah
    In Lingkungan
    Sabtu, 9 Mei 2026
  • Official trailer film Pesta Babi. Foto Indonesia Baru/YouTube.SIEJ: Larangan Nobar Pesta Babi Sensor Pengungkapan Peminggiran Hak Masyarakat Adat
    In News
    Sabtu, 9 Mei 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media