Minggu, 11 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Perubahan Iklim, Cuaca Ekstrem Makin Sering Dirasakan

Senin, 10 Februari 2025
A A
Perubahan iklim, cuaca ekstrem makin sering dirasakan. Foto ilustrasi.

Perubahan iklim, cuaca ekstrem makin sering dirasakan. Foto ilustrasi.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Koordinator Data dan Informasi Stasiun Klimatologi D.I. Yogyakarta, Etik Setyaningrum mengungkapkan, dari tahun ke tahun cuaca ekstrem makin sering dirasakan. Hal ini diakibatkan oleh pemanasan global atau signal pemanasan.

“Misalnya saja di 2016, suhu bumi mencapai 1.28°C di atas suhu rata-rata massa pra-industri. Di Indonesia, anomali maksimum tercatat di Stasiun Meteorologi Sentani – Jayapura (sebesar 0.8 °C) pada tahun 2022,” kata Etik dalam diskusi tentang keadilan iklim yang digelar Yayasan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta, Minggu, 9 Februari 2025.

Etik Setyaningrum sebagai pembicara utama dalam diskusi tersebut, mengungkapkan, berdasarkan statistik yang dimilikinya, perubahan iklim menyebabkan bencana hidrometeologi yang makin sering terjadi.

Baca Juga: Suara Perempuan Petani Indonesia Menghadapi Perubahan Iklim

“Bencana hidrometeologi itu bencana yang berhubungan dengan air dan atmosfer. Kebanyakan air jadi banjir, kurang air kekeringan, atmosfer terlalu lembab bisa menyebabkan beberapa varietas tidak dapat panen dan lain sebagainya,”katanya.

Ditegaskannya, ada dua cara dalam menghadapi perubahan iklim.

“Pertama tindakan mitigasi yaitu mengatasi penyebab perubahan iklim, dan kedua adaptasi yaitu tindakan menyesuaikan diri untuk mengantisipasi pengaruh buruk perubahan iklim,” imbuhnya.

Peserta diskusi, Heron dari Jampiklim, mengungkapkan kontribusi oksigen dari hutan lebih kecil dibandingkan dari biota laut, sedangkan laut semakin tercemar.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Bencana HidrometeorologiCuaca EkstremPerubahan cuacaperubahan iklim

Editor

Next Post
Cuaca ekstrem di Bali, tim SAR mengevakuasi kendaraan roda empat yang tertimbun longsor di Provinsi Bali. Foto Dok BNPB.

Dampak Cuaca Ekstrem hingga 11 Februari 2025 Sebanyak 85 Orang Tewas

Discussion about this post

TERKINI

  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 mengusung desakan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Agraria Kritik Penunjukan Kepala BRAN
    In News
    Jumat, 2 Oktober 2026
  • Pusat gempa dangkal 5,4 magnitudo di Pantai Timur Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada Kamis malam, 1 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Gempa Dangkal di Laut Flores Kepulauan Selayar Dirasakan IV MMI
    In News
    Kamis, 1 Oktober 2026
  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media