Wanaloka.com – Komitmen pemerintah menangani persoalan sampah nasional ditegaskan melalui arahan Presiden pada perguruan tinggi untuk mengembangkan teknologi pengolahan sampah yang aplikatif dan dapat diuji coba secara nyata. Kebijakan ini diperkuat dukungan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto yang mendorong solusi berbasis riset.
Dalam kunjungan ke Universitas Gadjah Mada (UGM) beberapa waktu lalu, Brian meninjau fasilitas pengolahan sampah di Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM. Apresiasi terhadap fasilitas tersebut menandakan kesiapan infrastruktur dan inovasi UGM untuk berkontribusi lebih luas. Momentum ini membuka ruang diskusi mengenai kesiapan kampus menjawab mandat nasional dalam pengelolaan sampah skala mikro.
Menanggapi hal itu, Dosen Program Studi Teknik Kimia UGM sekaligus Pemerhati Lingkungan, Prof. Wiratni mengakui perguruan tinggi memiliki kapasitas teknologi yang memadai. Namun dia mengingatkan, teknologi bukan satu-satunya kunci penyelesaian persoalan sampah. Pendekatan yang dibutuhkan adalah pengelolaan menyeluruh dari hulu hingga hilir.
“Saya yakin UGM dan kampus-kampus lain punya berbagai teknologi unggulan untuk mengolah sampah. Tapi problem sampah di Indonesia perlu pengelolaan dari hulu sampai hilir dalam sebuah ekosistem yang kuat,” tegas Wiratni, Rabu, 25 Februari 2026.
Baca juga: Walhi: Konsep Hak Pengelolaan dan Bank Tanah Merampas Hak Rakyat atas Tanah
Pilihan teknologi tak bisa diseragamkan
Persoalan sampah memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Pilihan teknologi tidak bisa diseragamkan untuk seluruh daerah. Setiap wilayah memiliki karakteristik berbeda yang memengaruhi strategi pengolahan. Ia mencontohkan perbedaan kebutuhan antara Kota Yogyakarta dan Kabupaten Gunungkidul dalam aspek ketersediaan lahan.
“Sukses tidaknya teknologi yang dipilih sangat kontekstual dan memerlukan pemetaan sosial yang akurat,” jelas dia.
Berangkat dari pengalaman di lingkungan UGM yang mengelola sekitar delapan ton sampah per hari, Wiratni menyebut ada tiga teknologi krusial yang memengaruhi keberhasilan ekosistem pengelolaan sampah.
Pertama, data timbulan sampah menjadi fondasi penting dalam merancang kebijakan pengurangan. Kini UGM mengembangkan timbangan digital berbasis Internet of Things yang terpasang di berbagai unit kerja. Informasi tersebut ditampilkan melalui dashboard agar mudah dipantau dan dievaluasi.
“Timbangan ini adalah cermin perilaku sivitas UGM yang menjadi dasar program menuju zero waste campus,” tutur dia.
Kedua, setelah sistem pemantauan berjalan, langkah berikutnya adalah pengolahan material sesuai karakteristiknya. Sampah organik dapat diolah melalui teknologi komposting dan budidaya maggot dengan rekayasa percepatan proses.
Baca juga: Klaim Earphone Bluetooth Berbahaya Bagi Otak Belum Ada Bukti Ilmiah
Ketiga, residu kemudian diproses melalui teknologi pelelehan dan karbonisasi menjadi bahan konstruksi seperti papan, genteng, dan konblok, serta karbon untuk campuran pupuk. Pilihan ini disesuaikan dengan volume sampah kampus yang belum memenuhi keekonomian skema waste-to-energy.







Discussion about this post