Wanaloka.com – Hujan lebat di wilayah tropis merupakan fenomena alam yang wajar. Namun ketika ekosistem hutan kehilangan kemampuan mengatur tata air, menstabilkan tanah, dan meredam energi hujan, curah hujan singkat dapat berubah menjadi aliran deras yang membawa lumpur, kayu, dan batu, menghancurkan permukiman serta infrastruktur.
“Banjir bandang bukan lagi kejadian alam biasa, melainkan sinyal bahwa ekosistem hutan di banyak bentang alam telah berada pada kondisi kritis,” jelas Peneliti Ahli Utama Konservasi Keanekaragaman Hayati Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Hendra Gunawan di Cibinong, Jumat, 13 Februari 2026.
Banjir bandang yang berulang di berbagai wilayah Indonesia tidak lagi bisa dipandang semata sebagai bencana akibat hujan ekstrem atau berkurangnya tutupan pohon. Peristiwa ini merupakan alarm ekologis. Penenda, bahwa ekosistem hutan sebagai penyangga kehidupan telah mengalami keruntuhan fungsi (ecosystem collapse).
Deforestasi memang menjadi faktor penting. Alih fungsi lahan, pertambangan, pembalakan, hingga ekspansi pertanian dan perkebunan telah mengubah struktur lanskap hutan secara drastis. Namun, deforestasi hanya menjelaskan apa yang hilang. Bukan sepenuhnya menjawab mengapa bencana menjadi semakin cepat, ekstrem, dan destruktif.
Baca juga: Hutan Gundul, Populasi Nyamuk Meledak, Penyakit Merajalela
Akibatnya, kerusakan yang terjadi bersifat sistemik. Hutan bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan sistem kompleks yang melibatkan tanah, air, tumbuhan, satwa, mikroorganisme, dan iklim mikro dalam jaringan interaksi yang saling bergantung. Ketika tekanan berlangsung terus-menerus, daya lenting (resiliensi) sistem melemah hingga akhirnya runtuh (collapse).
“Pada tahap ini, fungsi-fungsi ekologis gagal berjalan,” kata Hendra.
Air hujan tidak lagi terserap dan tersimpan. Melainkan langsung mengalir ke hilir, stabilitas lereng melemah akibat rusaknya sistem perakaran, pengendalian iklim mikro terganggu, dan habitat keanekaragaman hayati menyusut drastis.
“Banjir bandang dalam konteks ini, menjadi konsekuensi logis dari runtuhnya sistem tersebut,” imbuh dia.
Menuju ekosistem kolaps
Keruntuhan ekosistem hutan tidak terjadi secara tiba-tiba. Melalui proses spasial secara bertahap, sering kali luput dari perhatian publik maupun pengambil kebijakan.
Baca juga: Kementerian Lingkungan Hidup Lindungi Pesut Mahakam Lewat Desa Konservasi
“Perubahan lanskap hutan itu gradual. Awalnya mungkin terlihat kecil, tetapi dampaknya terakumulasi,” ujar dia.
Ada lima proses spasial yang dapat mengubah matriks lanskap hutan. Pertama, fragmentasi. Ketika hutan yang sebelumnya utuh terpecah menjadi bagian-bagian (fragmen) kecil dan terisolasi. Fragmen-fragmen hutan ini kehilangan konektivitas ekologis, sehingga pergerakan satwa dan aliran genetik terganggu.
Kedua, dissection, yakni ketika lanskap hutan terbelah oleh jalan raya atau infrastruktur linear lainnya.
Begitu ada jalan yang membelah, secara ekologis hutan itu sudah tidak lagi utuh. Terpisah menjadi dua bagian yang rentan terhadap gangguan antropogenik, efek tepi dan isolasi populasi satwa tertentu.
Ketiga, perforasi, ditandai dengan terbentuknya “lubang-lubang” di dalam bentang hutan akibat pembukaan lahan. Keempat, shrinkage, iika tekanan terus berlangsung, fragmen hutan yang tersisa berangsur-angsur akan mengalami penyusutan luas. Pada fase paling lanjut terjadi attrition, yaitu ketika fragmen-fragmen kecil itu hilang sepenuhnya akibat degradasi berkelanjutan.
Baca juga: Potensi Hujan Intensitas Tinggi, Cuaca Libur Idul Fitri 2026 Diprakirakan Kondusif
“Proses-proses ini bisa terjadi bersamaan atau bergantian. Karena berjalan perlahan, sering kali kita tidak menyadari bahwa sistemnya sedang menuju titik kritis,” tegas Hendra.







Discussion about this post