Jumat, 18 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Generasi Muda Mitigasi Perubahan Iklim, Apa dan Bagaimana

Generasi muda punya potensi besar melakukan mitigasi perubahan iklim, dampak dari pembangunan, deforestasi hingga perilaku hidup. Dalam rentang tahun 2001 hingga 2006, terjadi penyimpangan ekstrem nilai rata-rata suhu tahunan.

Senin, 12 September 2022
A A
Generasi muda mitigasi perubahan iklim, dalam diskusi bertajuk: Kolaborasi Jurnalis dan Kalangan Muda Merespons Perubahan Iklim, di Yogyakarta, Sabtu, 10 September 2022. Foto Ist.

Generasi muda mitigasi perubahan iklim, dalam diskusi bertajuk: Kolaborasi Jurnalis dan Kalangan Muda Merespons Perubahan Iklim, di Yogyakarta, Sabtu, 10 September 2022. Foto Ist.

Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga: Waspada Potensi Cuaca Ekstrem di 24 Provinsi Ini

Contohnya, menanam pohon, merupakan langkah paling sederhana untuk menyerap karbon. Selain itu ada beberapa hal yang bisa dilakukan.

Langkah lainnya, menghemat energi, mengurangi perjalanan menggunakan pesawat karena sejumlah besar bahan bakar fosil digunakan untuk pesawat sehingga menghasilkan emisi gas rumah kaca yang signifikan, mengurangi pembuangan makanan. Saat membuang makanan, maka sumber daya dan energi yang digunakan untuk menanam, memproduksi, mengemas dan mengangkutnya ikut terbuang. Ketika makanan membusuk di tempat pembuangan sampah atau landfill, gas metana juga mengakibatkan efek rumah kaca.

Aktivis lingkungan dari Marine Buddies Yogyakarta, Yuris Orchita Hapsari mengungkapkan, anak muda perlu terlibat dalam upaya mitigasi perubahan iklim.

Baca Juga: Kantong Plastik Jadi Sampah Terbanyak dan Berbahaya, Ini Cara Mengatasinya

Genarasi muda punya potensi besar dalam merespons perubahan iklim. Yuris merujuk hasil survei Yayasan Indonesia Cerah (YIC) tahun lalu, mengungkap kepedulian anak-anak muda pada isu lingkungan dan perubahan iklim. Sebanyak 82 persen dari total 4.020 responden, menyatakan mengetahui soal isu lingkungan, dan sebanyak 62 persen menyatakan manusia bertanggung jawab atas persoalan lingkungan.

“Selama ini kami cemas dengan apa yang akan terjadi dengan kami nanti kalau perubahan iklim terus terjadi. Mungkin karena kami sekarang terpapar banyak informasi soal perubahan iklim,” kata Yuris mahasiswi Kehutanan UGM.

Dia menggarisbawahi, peduli tanpa aksi nyata sama saja tidak ada artinya. Yuris memberikan tips apa yang bisa dilakukan anak-anak muda untuk merespons krisis iklim.

Pertama-tama, generasi muda bisa mengungkapkan pendapat dan keresahan mereka, bisa dengan teman atau berkelompok. Juga bisa turut andil mengkritisi dan memberi masukan kepada pemerintah agar menerapkan kebijakan ramah lingkungan.

Baca Juga: AS Nilai RI Mitra Strategis Atasi Perubahan Iklim, Ini Klaim Alasannya

Tips lainnya, kata Yuris, melakukan gaya hidup ramah lingkungan, belajar atau terjun dalam karier terkait lingkungan dan bergabung dalam komunitas peduli lingkungan.

“Di komunitas Marine Buddies misalnya, kami membuat konten edukasi soal lingkungan, ikut bersih-bersih pantai dan mempromosikan bijak nyampah,” kata Yuris, siaran pers yang diterima Wanaloka.com pada Minggu, 11 September 2022.

Baca Juga: Manusia Tinggal Punya Waktu 7 Tahun Lagi untuk Menjaga Bumi

Pembicara lainnya, Ketua Bidang Pengembangan Isu Wilayah Barat SIEJ Dedek Hendry, mencontohkan bagaimana kekuatan media terutama media alternatif mengadvokasi isu perubahan iklim di Bengkulu.

“Di Bengkulu ada isu produktivitas kopi Bengkulu menurun. Ternyata terkait perubahan iklim. Framingnya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim,” sebut Dedek. [WLC01]

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: aktivis lingkunganCuaca EkstremEmisi gas rumah kacaEmisi karbonGenerasi mudaHutanIklim ekstremIsu lingkunganKonservasi lingkunganKopiKrisis Iklimmitigasi perubahan iklimMusim hujanPakar klimatologi UGMperubahan iklimRamah lingkungansampah plastikZona musim

Editor

Next Post
Warga terdampak bencana hidrometerologi berupa longsor di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Foto BPBD Kabupaten Ciamis.

Bencana Hidrometeorologi di Ciamis, Dua Orang Meninggal Dunia

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media